Rabu, 09 Desember 2015

New Place, New Life (2)

Dua hari yang lalu rambut sepunggungnya belum berubah kecokelatan seperti saat ini. Bahkan tiga hari sebelum ini, gadis dengan perawakan jangkung bernama Shadene itu masih mendengar David mengulangi kebiasaan buruknya, memanggil Shad dengan julukan 'Si Rambut Emas', karena warna rambutnya yang memang sedemikian mencolok. Tapi Shad tak tahu perubahan ini akan terjadi, bahkan tidak pernah menyangka.

Ia tak pernah tahu bahwa menembus dimensi lain dari dunia sihir dapat mempengaruhi tampilan fisiknya. Masih beruntung ia tidak jatuh sakit atau semacamnya karena nekad menembus perbatasan terlarang Totten. Kalau pun rambutnya menjadi cokelat seutuhnya, Shad tidak akan menyesal. Sejak dulu ia iri melihat warna kecokelatan pada rambut David, kakaknya. Jadi ini kesempatan bagus untuk memiliki rambut baru, rambut denganwarna alami yang ia dambakan. Setidaknya itu membuat Shad tidak terlalu menyesal untuk saat ini.

Shadene bertahan pada posisi merangkaknya. Tersenyum lebar melihat berubahan mahkota kepalanya itu dari pantulan dirinya sendiri di air danau. Ujung-ujung rambutnya sudah mencumbu dinginnya air yang sedang ramah tanpa tersapu angin itu. Warna baru pada rambutnya itu, meskipun terkesan seperti kehilangan cahayanya, tapi berhasil membuat Shad betah berlama-lama menumpu badannya dengan tangan demi menatap hal yang masih terasa aneh baginya itu. Ini mengingatkan dirinya pada David.

"Kau terlihat aneh." sang gadis bicara seolah-olah yang ada di pantulan air danau itu bukanlah dirinya. Entah bagaimana pemandangan itu sangat menarik baginya. Rasanya aneh, tapi ia suka.

New Place, New Life

Gordon melipat lengan di dada. Menunggu respon anak gadisnya untuk memulai apa yang telah ia perintahkan. Air mukanya selalu datar. Sama halnya dengan David di sebelahnya. Tapi mata David tergolong sayu dibanding mata ayahnya yang tegas dan menusuk.

Shadene, satu-satunya perempuan di antara dua pria jangkung itu merasa terpojok. Sebenarnya malas, tapi jika di hadapan ayahnya, ia tidak pernah berani menunjukkan ekspresi negatif, apalagi terlihat malas. David menatapnya. Shadene mengalihkan pandangan. Awalnya hanya untuk menghindari kontak mata dengan David, tapi matanya malah menemukan sebuah kursi di seberang kolam renang, tempat mereka berada. Kursi itu, sepertinya boleh juga untuk menjadi objek sihir, memenuhi permintaan Gordon yang sejak tadi sama sekali tidak ia gubris.

Si gadis bersurai cokelat panjang menjentikkan telunjuk. Benaknya merapalkan sesuatu dengan demikian khidmatnya. Yang benar saja, kalau percobaan ini gagal, bukan hanya ia yang akan jadi objek amukan Gordon. David juga bisa kena imbasnya. Dan apabila hal itu terjadi, Shadene akan mengalami mimpi buruk dua kali. Dari Gordon untuk saat ini, dan balasan dari David keesokan harinya. Tidak, tidak. Shadene sudah kenyang hanya dengan memikirkannya.

Kursi kayu di pinggir kolam renang terbakar seketika. Rapalannya sukses. Padahal ia tidak mempraktikannya selama kurang lebih enam bulan terakhir; Shadene hampir tidak pernah mempraktikkan apa-apa.

Gordon mengerutkan kening. Melihat itu, ada perasaan waswas yang merubung sekujur tubuh Shadene. Dari luar sampai dalam.

Satu, dua, tiga, empat ....

Shadene bahkan sudah menghitung detik, mempersiapkan mental kalau saja Gordon tiba-tiba melengking. Satu detik terasa lama bergelantungan di udara, seperti mengejek Shadene dengan lidah yang menjuntai keluar. Shadene ingin cepat berlalu tapi bahkan ia sendiri takut membayangkan apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Dan David masih tidak berekspresi. Pria itu sebenarnya waswas juga. Adik perempuannya itu hampir tidak bisa diharapkan.

"Pyrokinetik?" Gordon bersuara. Oh, tidak ada lengkingan, teriakan atau semacamnya? Tidak. Jangan senang dulu. Ini bisa saja menjadi lebih buruk.

Shadene tak bisa menangkap jelas apakah itu pertanyaan ataukah penyataan. Sang hawa menunduk. Ia tahu ia telah gagal—lagi—di mata Gordon. "Siapa yang memintamu melakukan pyrokinetik? Aku memintamu melakukan sesuatu yang lebih mengagumkan."

"Ayah, aku--"

"David, kau tidak melatih adikmu?" David menoleh. Mata ayah dan anak itu bertemu pandang. Terang saja David bingung sendiri. Ia ingat betul Shadene menguasai sihir. Nyaris semua sihir yang Gordon ajarkan Shadene bisa melakukannya. Tapi kenapa gadis itu malah melakukan hal kecil semacam pyrokinetik? Apa saja yang ia lakukan selama ini?

Shadene melanjutkan kalimatnya yang terputus bahkan sebelum David sempat menjawab pertanyaan ayahnya, "Aku tidak bisa. Aku tidak sebaik David dalam melakukan sihir, dan aku ... memang tidak pernah berniat menjadi penyihir hebat sepertimu."

"SHAD!!"

Sepasang adik-kakak itu tersentak oleh lengkingan penuh amarah ayahnya. Yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga. Gordon, emosinya bisa tersulut semudah sehelai daun bergoyang tertiup angin.

"Anak-anakku akan menjadi penerusku. Penyihir hebat! Keluarga Gerynd adalah penyihir hebat!"
Gadis yang biasa dipanggil Shad itu menyembunyikan wajah dibalik juntaian surai cokelatnya. Inilah mengapa Shadene yakin bahwa tempatnya bukan di sini, di rumah yang setiap sisinya adalah campur tangan sihir. Bukan ini yang Shad mau. Dipaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, siapa yang akan menyukai hal itu?

"Darah yang mengalir dalam tubuhmu itu adalah darahku. Darah seorang penyihir!"
David mengintip adik perempuannya dari celah poni. Shadene cemberut di balik tundukannya. Sepatu di kaki kanan anak gadis itu menggesek-gesek tanah. Dia terlihat persis seperti anak kecil yang sedang dimarahi ayahnya karena terlalu banyak makan permen.

"Jika bukan dunia sihir yang akan kau masuki, lalu apa?" tanya Gordon tanpa merendahkan nada. Sebuah pertanyaan yang tak akan pernah berani Shad jawab, meskipun jawabannya sudah terpatri dengan sangat jelas di dalam hatinya. "Jika kau ingin menjadi seorang exorcist, lupakan saja. Sampai aku mati pun aku tak akan membiarkan keturunan Gerynd melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan."

"Kalau begitu katakan saja aku bukan keturunan Gerynd." Shadene mengangkat kepala dengan segenap keberanian. David ikut tegak seketika. Kalimat lancang itu....

"Kau ... bilang apa tadi?" Gordon hanya ingin memastikan. Bukan. Dia mendengar apa yang puterinya katakan. Bahkan sangat jelas. Tapi ia berharap ada yang salah dengan pendengarannya.

"Mari kita katakan bahwa aku bukan anakmu. Aku bukan keturunan Gerynd. Aku tidak punya alasan untuk menguasai sihir dan aku punya hak melakukan apa yang kumau." tegas Shad. "Sudah cukup kau membatasi gerakku selama enam belas tahun ini."

Beberapa saat hanya riuh amukan angin malam yang terdengar. Tusukan udara malam juga sudah tidak terasa lagi. Kulit dan tubuh ketiganya sudah terlanjur kaku karena luapan perasaan masing-masing. Tertusuk, tertampar, terjerembab dalam hingga seperti lepas dari alam sadar. Enam puluh satu tahun Gordon hidup di dunia, belum pernah ia seterkejut ini. Bahkan ini menyangkut harga dirinya yang dibanting, diinjak-injak, dan bagai dibuang ke sungai penuh buaya. Shadene, anak gadis Gordon satu-satunya baru saja memutuskan hubungan kekeluargaan secara sepihak. Dan sampai kapan pun itu tidak akan mejadi keputusan yang sah.


*


Shadene tak peduli sejak kapan ia sudah berlari sampai gerbang rumahnya yang tinggi menjulang. Yang ia tahu adalah bahwa ia harus bisa menghindari bola-bola cahaya kehijauan yang mengejarnya. Sesekali bola-bola itu menubruk tembok dan pepohonan, membuat semuanya runtuh dan mau tak mau Shad harus mempercepat larinya jika masih ingin melihat bulan sabit besok malam. Gelegar suara bola berpengaruh sihir yang menabrak tembok hampir memekakkan telinga. Ini mirip seperti sedang terjadi badai tornado yang lapar akan nyawa.

Dan Shad masih gigih berlari menghindar. Ia tidak mengerti mengapa tiap terburu-buru, waktu selalu terasa berjalan lambat. Apakah koridor trotoar yang memanjang atau hanya perasaan Shad saja. Persetan. Shad hanya harus berlari sekarang. Suara amukan Gordon masih bisa sayup-sayup Shad dengar.

Tubuh sang hawa terpental. Gravitasi membantingnya ke tanah, dan itu benar-benar sakit rasanya. Mau tak mau Shad harus rela jika ia harus patah tulang di sini. Pembatas Totten memang haram dilintasi, dan Shad tidak tahu jika ia sudah membentur pembatas itu. Gadis bermanik cokelat itu hanya tahu kalau ia mulai melompati pagar menuju ke hutan dan menerobos air sungai yang dangkal. Ia tidak sadar pembatas haram itu sudah ada di depan matanya. Lagipula hutan ini gelap sekali.

Biasanya keturunan penyihir yang berusaha melewati pembatas Totten akan mati. Karena mencoba melompat ke dimensi lain sama halnya dengan menyalahi kodrat mereka untuk hidup di dunia sihir. Karena mereka terlahir untuk sihir. Dan coba-coba menembus Totten berarti coba-coba menyalahi takdir. Wajar jika ratusan korban berakhir di sini. Awalnya Shad pikir ia akan menjadi satu di antara ratusan orang malang tersebut. Tapi sekarang, Shad tahu bahwa ia memang berbeda.
Shad berhenti meringis ketika ia sadar kini dirinya berada di dimensi lain. Ia menatap pembatas Totten yang terlihat seperti air yang membelah udara sampai langit. Sang gadis menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya. Entah bagaimana harus dijelaskan raut wajah Shad saat ini. Ia terlalu takjub untuk disebut sekedar terkejut. Rasa sakit di tubuhnya menjadi urusan nomor dua sekarang. Yang ada di hadapannya kini lebih menarik perhatiannya daripada itu semua.

Dimensi lain. Dengan udara yang lebih basah dari dunia sihir. Shad hanya minta agar ini bukan mimpi indah tengah malam.

*

Bangunan megah di hadapannya adalah gedung Exorcist Academy. Tinggi menjulang dengan lahan yang sangat luas. Shad sudah melepas sepatu flatnya sejak tadi. Sekarang ia bisa merasakan lembabnya tanah berumput Exorcist Academy. Tanah ini pasti subur, pikirnya. Shad tidak lagi berpikir debu dapat mengotori kakinya. Tidak. Ini kali pertama ia memijak rumput yang sejuk. Tidak ada tanah yang subur di dunia sihir. Ya, pepohonan memang tumbuh, tapi sihirlah yang menjadi pupuknya. Mengingat hal-hal itu membuat Shad sadar akan sesuatu. Dunia yang ia tempati sangat luas. Ia tidak akan pernah tahu jika batas itu tidak ia tembus, bukan?

"Aku tidak menyesal." Sebuah seringaian mengakhiri bisikan dari bibirnya yang pucat.


FIN


Spacia Shadene

Fresh Blood

Danau Yuem tampak sangat tenang sore ini. Bersahabat dengan angin, yang bermain-main di sela-sela jemari daun pohon kelapa. Lisaac tidak biasanya ada di sekitar sini. Ia tidak begitu menyukai perairan. Yeah, mungkin lebih tepatnya takut. Tapi semenjak tadi malam, sejak tempat ini menjadi saksi pertumpahan darah klan Orzac dengan musuh seumur hidupnya, klan Chast, entah mengapa tempat ini jadi sedikit menarik. Oh, bahkan sangat menarik. Darah para petarung yang masih basah di atas pasir menebarkan wangi yang sangat menggugah.

Tidak. Lisaac bukan vampir penghisap darah atau semacamnya. Lisaac hanya gadis petarung biasa. Petarung akan selalu punya musuh. Dan aroma darah musuh adalah bau paling menyenangkan bagi setiap petarung.

Lisaac menyeringai dalam tundukan kepalanya. Rambut cokelat sebahunya terus saja dielus angin Yuem yang membawa aroma amis. Ia menikmati waktu demi waktu di sini. Dangkalnya air Yuem kadangkala mempertontonkan isi perutnya. Ikan-ikan kecil berenang di sana. Di air yang kini keruh terkontaminasi darah.

“Sayang sekali Aldonard tidak sempat mengucapkan kalimat terakhirnya.” suara Jarrel terdengar dari selatan danau Yuem. Suara daun-daun kering terinjak terdengar mendekat. Lisaac bergeming. Aroma amis masih lebih menarik daripada mendengarkan pemuda berambut pirang sebahu itu.

Dentingan nyaring terdengar ngilu. Pedang Lisaac tahu-tahu sudah terbentang, memamerkan mata nun tajam yang memantulkan mega sore hari dari langit. Satu buah panah milik Jarrel meleset, berbelok empat puluh derajat dan menancap di sebuah pohon yang tampak sudah berumur ratusan tahun.

Jarrel terkikih. “Lisaac-ku semakin berbakat setiap harinya.”

Lisaac mengangkat kepala. “Hanya dengan mendengar nama Orzac, rasanya dadaku langsung sesak karena ada terlalu banyak kebencian di dalamnya. Tapi kali ini aku sedikit berterimakasih pada klan sombong itu.” Bibir tipisnya masih mempertontonkan baiknya suasana hati Lisaac saat ini. “Berkat mereka, pandanganku tidak akan pernah terganggu lagi oleh keberadaan Aldonard dan anak-anaknya yang sialan itu.”

Lisaac menoleh ke selatan, Jarrel masih di sana dengan busurnya. “Kerajaan mereka akan hancur sebentar lagi. Ini akan menyenangkan, bukan?”

Jarrel tersenyum sekilas. Mengedarkan pandangan ke seluruh danau Yuem yang bersih dari kabut pegunungan. Yang benar saja, kalimat Lisaac tadi terdengar begitu tulus di telinganya. Lisaac benar-benar dendam pada klan Chast, penguasa timur Sintares. Klan yang sombong, dan satu-satunya klan yang tidak bersahabat dengan klan-klan lainnya untuk sekedar menambah kekuatan. Bagi klan Chast, jumlah mereka sudah sangat lebih dari cukup untuk menyandang kata kuat. Setidaknya mereka masih bisa bicara begitu, sampai tadi malam, saat akhirnya mereka gugur dalam petarungan akbar itu, hingga menyebabkan petinggi mereka merenggut nyawa dan sisa dari prajurit mereka lari tunggang langgang.

“Mau merayakan kekalahan mereka?”
Jarrel tersenyum lebar. Alis Lisaac malah bertaut jadi satu.
“Perayaan bagaimana?” tanya sang hawa. Kurang tertarik jika itu hanya acara minum-minum di kedai.

“Aku punya seorang sandera. Mau bersenang-senang?”

“Siapa?”

“Laurentia Lusimus. Istri Aldonard.” Mata Lisaac langsung terbelalak. Ia pikir keluarga inti Aldonard sudah mati dalam perang itu.

“Pastikan kau sudah mengasah pedangmu,” Jarrel menyeringai, lantas berbalik pergi. Sebelah tangannya terangkat, mengisyaratkan pada Lilaac untuk mengikutinya.

Senyum miring terbit di wajah pucat Lilaac. Perasaan senang, puas, penasaran dan tak sabar merubung relung dada Lilaac bersamaan, sampai gadis itu rasanya ingin berlari sekuat tenaga saat ini juga untuk segera memberikan pedang kesayangannya itu makan malam berupa darah segar dari klan biadab tersebut.


Psycho Side

Aku menekan kenop pintu dan mendorongnya pelan. Cahaya lampu dari balik punggungku langsung berlomba masuk ke dalam ruangan gelap nun pengap itu. Kaki kananku maju mendahului, debu-debu di lantai terasa kasar di telapak kakiku. Aroma ini... aku jadi ingin cepat-cepat melihat sumbernya. Adiktif. Menenangkan.

Cklek. Saklar lampu kutekan.

Uh, mata yang terpejam silau itu membuat ekspresinya terlihat lucu. Aku mendekat, aromanya makin kuat. Kau bisa bayangkan aroma debu yang pekat, berlomba-lomba menelusup ke dalam hidungmu bersama amis yang kuat khas darah? Kau bisa bayangkan? Aku menghirup napas dalam-dalam sampai mataku terpejam nyaman. Oh, Tuhan, darahnya harum sekali.

“Kau tidak melahap makan malammu lagi?” bibirku mengerucut. “Kau, kan, selalu suka ikan tuna.” Aku mendekati pojok ruangan, tempat di mana sosok rupawan dan jangkung itu duduk bersandar. Dia kelihatan sangat lesu. Kelelahan? Padahal dia sedang cuti bekerja, aku sendiri yang menelepon bosnya kemarin.

Aku melipat lutut dan melingkarkan tangan di lehernya. Bau pekat itu tak pernah gagal mengundang endusanku pada lehernya sampai terpejam lagi. Tuhan, makhlukmu yang satu ini milikku. Terimakasih sudah mempertemukannya denganku.

“Aku suapi, ya?” tawarku setelah memundurkan kepala agar bisa menatap wajahnya. Kelopak matanya bergerak pelan-pelan, berangsur-angsur menunjukkan manik hijau cerah yang ia sembunyikan sejak tadi. Aku tersenyum, akhirnya dia membuka mata juga. Kuraih piring keramik yang tergeletak di samping pahanya. Kusodorkan sesendok nasi bersama sesobek fillet tuna panggang, makanan kesukaannya. Tapi ia malah menolehkan kepala ke arah lain, menghindari sendok yang kupegang.

“Ron...” aku memelas. “Kau belum makan sejak kemarin, sayang.”

“Permisi!” aku menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Kalau tidak salah dengar, sepertinya ada seseorang yang memanggil dari luar. Ck, siapa sih yang datang di jam makan malam begini?

Aku menolehkan kepala lagi pada Ron. Rambut hitam itu kuusap. Mengeras di beberapa bagian, kurasa itu karena darah kering. “Jangan membuat suara apa pun, ya,” tanganku terulur ke belakang, menarik keluar sebuah cutter dan lakban dari saku celana. Aku butuh beberapa saat untuk mencari ujung lakbannya. Orang di luar sana terus memanggil, aku jadi terburu-buru memutar lakban hitam itu.

Sreeett.

Kutempelkan benda lengket itu ke bibir Ron, seketika mengunci pergerakan mulutnya yang sejak tadi memang enggan terbuka. Sepertinya luka robek di sudut bibirnya itu perih, makanya ia tidak mau makan.

Dalam sekali ayun, cutter-ku memotong lakban tersebut. Ron tiba-tiba mengerang keras. Meskipun bibirnya terkatup, tapi erangannya masih sangat jelas terdengar.
Oh, astaga, pipinya terkena ujung cutter-ku yang lancip dan agak berkarat. Sebuah sayatan yang dalam timbul di sana bersama rembesan merah berbau amis yang makin lama makin banyak, mengalir sampai ke dagunya yang lancip. Darah kering di sana ditimpa oleh darah segar yang baru.

Aku bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu. Ron pernah bilang, jangan biarkan tamu menunggu lama. Jadi aku akan segera menemuinya.

“Aku akan segera kembali, sayang.” Seruku tanpa berbalik.


Brukk! Aku menutup pintu terlalu kuat karena terburu-buru. Ron tidak suka kebiasaanku yang satu itu, dia pernah membentakku karena kebiasaan membanting pintu. Aku akan minta maaf nanti, setelah selesai mengurus tamu yang berisik itu.

Unwanted Meeting

Sekali lagi mau tak mau aku harus mengibarkan bendera perang meskipun aku sama sekali tak menginginkannya. Tak ada yang memintaku. Namun setan penggoda terlalu kuat bila disandingkan dengan diriku ini. Sekarang, aku harus kembali mengunci rapat-rapat sikap ramahku yang begitu dikenal orang.

“Eileen,”

Seperti dugaanku. Dia, cepat atau lambat akan menegurku juga. Mungkin tadinya ia sama sepertiku, tak ingin menegur, namun keberadaannya yang berada tepat di sampingku dan tingkahku yang seolah-olah tak menyadari keberadaannya bisa jadi telah mendorongnya untuk menyapaku seperti sekian detik yang lalu. Aku berlagak memandangnya bingung, seolah mencoba mengingat-ingat wajahnya. Yang padahal masih sangat kuhafal di luar kepalaku.

Gadis itu tersenyum. Aku masih berakting dengan kerutan di dahiku. “Oh, Valleria?” ucapku sok memastikan. Dia mengangguk mengiyakan. “Apa kabar?” tanyanya. Aku tak tahu apakah pertanyaan itu hanya sebatas sapaan ramah sebagaimana biasanya yang orang sampaikan saat berjumpa satu sama lain atau memang benar-benar sebuah pertanyaan yang tulus. Tapi bagaimana pun, aku hanya akan kembali pada prinsip awalku apabila dipertemukan dengan gadis ini, yaitu menjadi sosok yang dingin.

“Sangat baik, sebelum akhirnya melihatmu.” Jawaban kurang ajar itu meluncur bebas dari mulutku. Otakku seolah bekerja lebih cepat daripada nuraniku. Aku mungkin, baru saja melukai hati seorang kawan dengan perasaan yang begitu rapuh. Ada semacam perasaan tak tega. Tapi apa yang bisa dibandingkan dengan sakitnya aku saat dia pergi dengan menudingku bersalah, hingga membuat pria yang kucintai beranggapan salah tentangku? Ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan itu semua.

Valleria diam. Aku mengerti kata-kataku tadi tak pantas untuk menjadi jawaban dari sapaannya yang hangat. Itu salahnya, mengapa menyapaku?

“Kurasa kau juga baik, setelah meninggalkan aku dan Mark.” Lanjutku. Menghunuskan pedang ke dadanya lebih dalam lagi. Kali ini aku sengaja. Kuulangi, aku memang sengaja. “Eil…” desisnya tak tahan atas perkataanku.

“Kau tidak tertarik menanyakan keadaanku?” ia menatapku sendu dengan iris matanya yang kecokelatan itu. Berharap sekali barangkali aku sudah memaafkan perbuatannya. “Tidak.” Jawabku singkat tanpa menatapnya.

“Oh, busku sudah datang. Aku pergi dulu.” Pamitku tak sopan, tanpa sedikit pun ingin mendengar jawabannya atas semua kata-kataku. Sudah cukup main-mainnya. Aku tak ingin melukainya lebih banyak lagi. Meskipun itu sudah kulakukan, tapi hatiku tidak bisa sepenuhnya tega menyakiti perasaan orang lain, apalagi itu Valleria, yang dulunya, sebelum kejadian itu, merupakan orang terdekat bagiku.


Aku secepat mungkin melangkah menuju bus yang sudah berhenti tepat di depanku. Langsung melangkahkan kakiku naik ke dalamnya, menyerobot orang-orang yang bahkan belum sempat turun dari bus ini. Terserah. Aku hanya ingin pergi sesegera mungkin dari sini.

Jones (Ini bekas event sebenernya)


Sil Houette, si gadis pemilik surai putih tulang itu memilih model rambut ponytail dalam rekreasinya kali ini. Seperti biasa, sepasang sepatu flat melengkapi dress cokelat selutut dan kardigan sewarna yang menggantung di tubuhnya.

Setelah seharian berkelana sendirian di sekitar Fantasy Area dan mencoba beberapa permainan, ia pun berakhir di sebuah kafe untuk sekedar mengistirahatkan kakinya yang pegal-pegal sambil menikmati secangkir americano.

“Besok kita ke mana lagi?” telinga Sil menangkap suara seorang wanita dari meja sebelahnya.
“Ada tempat yang ingin kau kunjungi?” seorang pria merespon, balik bertanya.

Sil langsung melengos ke luar jendela. Bibir atasnya terangkat sebelah, meremehkan. Ternyata hanya sepasang kekasih yang sedang mengatur rencana jalan-jalan bersama.

Di luar jendela kafe, Sil bisa melihat seorang perempuan berbalut coat merah berdiri membelakanginya. Sil tengah asyik memperhatikan pakaian dan tas bermerk yang menggelantung di bahu wanita tersebut, sampai akhirnya seorang pria jangkung datang dan menggenggam tangan perempuan modis itu. Sil semakin gerah. Ia membuang pandangan lagi.

Diraihnya cangkir americano dari atas meja dan menyeruput isinya sampai habis. Belum sempat cairan pahit itu masuk ke tenggorokannya, manik kehijauan Sil malah sudah disuguhi dengan sepasang kekasih lain yang masuk bergandengan ke dalam kafe. Alis Sil bertaut. Ada apa, sih, dengan semua pasangan kekasih yang ada di sini?

Ia menaruh cangkirnya sambil mengerahkan sedikit tenaga hingga terdengar dentingan khas hasil antukan cangkir putih tersebut dengan meja kaca. Sil berdiri dan meninggalkan mejanya dengan suntuk.

Ya, ya. Sil tahu ia memang tidak punya pacar seperti yang lain.


[RANDOM] One of My Original Character


Char Name                  :           Sil Houette
Date of Birth               :           06-06
Gender                        :           Female
Height/Weight            :           172cm/55kg
Blood Type                 :           A

***

Sil Houette kecil pernah dua hari lamanya terabaikan di hutan Mavares, di suatu negara miskin terpencil di benua Asia. Si gadis tak ingat apa-apa. Ia hanya tahu bahwa malam sebelumnya ia masih tidur nyanyak di pelukan ibunya di atas sebuah kereta kuda, sampai akhirnya ia terbangun dan sudah tergeletak di bawah sebuah pohon rindang. Gelap dan lembab. Sebuah hutan. Sil Houette kecil ditelantarkan di sebuah hutan.

Sil bahkan tidak berani menangis. Tempat ini terlalu asing, Sil takut ada hantu atau monster yang memakannya kalau ia bersuara—salah seorang anak tetangganya selalu menakut-nakuti Sil demikian. Yang Sil ingat, saat ia terbangun, ada sebuah sumur kira-kira tiga meter di depannya. Dan terdapat sebuah wadah besar penuh dengan air di samping batuan yang menguatkan permukaan sumur tersebut.

Dan di sanalah Sil kecil menunggu sang ibu dua hari lamanya. Ia hanya mengandalkan pohon ceri yang tumbuh di dekat sumur untuk makan, dan menggunakan air yang tertampung di wadah besar itu untuk minum dan buang air. Sil tidak tahu apa-apa. Ia hanya anak berusia empat tahun yang lepas dari jangkauan ibunya. Dia bahkan tidak berani pergi ke mana-mana untuk mencari sang ibu. Sil ingat nasihat ibunya tiap kali mereka pergi ke pasar, “Kalau lepas dari ibu, jangan pergi ke mana-mana. Berdiri diam di tempatmu agar ibu tidak kesulitan mencari. Mengerti?” Sil bahkan masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana mata kehijauan sang ibu—yang turun padanya juga—yang waswas dan serius ketika menasihati dirinya.

Hari itu Sil bersandar pada pohon rindang yang memayunginya saat ia pertama kali terbangun di hutan ini. Menekuk lutut, menahan suara tangisannya menunggu sang ibu menjemput. Bahkan hingga tenggorokannya sakit sebab menahan isakan terlalu lama. Sil kecil tertidur.

Dan ketika membuka mata, ia ada di dalam sebuah kereta kuda yang penuh sesak dengan kotak-kotak besar. Indera penciumannya langsung ditusuk aroma tajam hingga ia harus menutup hidung. Seorang pria berkisar empat puluhan masuk, memperkenalkan diri. Sil duduk memojokkan diri, takut. Rambut putih tulang seleher miliknya sudah tidak berbentuk. Dua hari terlantar, Sil tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Dia bilang namanya Julianco. Pemuda dengan tutur kata yang halus itu memperkenalkan diri sebagai seorang ahli herbal yang datang ke negeri ini untuk menjual ramuan-ramuan buatannya. Julianco menemukan Sil kecil ketika ia berniat istirahat sejenak dan mencari sumber air. Takdir membawa Julianco pada sumur dekat pohon ceri tempat Sil kecil tertidur menunggu ibunya.

*

Sil kini tumbuh menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun. Julianco merawatnya sejak kejadian hari itu. Pria yang saat ini memasuki kepala enam itu mengajarkan Sil tentang banyak hal. Sejak hari pertama Sil dibawa ke kediaman Julianco, ia disambut oleh dua anak laki-laki yang tumbuh bersama dengan Sil hingga saat ini. Dua anak laki-laki itu juga merupakan anak angkat Julainco. Isterinya meninggal dunia saat Julianco berusia tiga puluh enam tanpa meninggalkan seorang anak pun.

Maka di sinilah Sil dan dua saudara angkatnya itu berada. Sang ayah angkat mengajarkan banyak hal pada mereka, khususnya membimbing Sil Houette karena ia adalah satu-satunya perempuan di sana.
Dari Julianco pula Sil belajar menggunakan pedang, memanah, berkuda, bahkan tentang obat-obatan herbal.

Soal ibunya, Sil sudah tidak bisa mengingat apa-apa lagi.