Gordon melipat lengan di dada. Menunggu respon
anak gadisnya untuk memulai apa yang telah ia perintahkan. Air mukanya selalu
datar. Sama halnya dengan David di sebelahnya. Tapi mata David tergolong sayu
dibanding mata ayahnya yang tegas dan menusuk.
Shadene, satu-satunya perempuan di antara dua
pria jangkung itu merasa terpojok. Sebenarnya malas, tapi jika di hadapan
ayahnya, ia tidak pernah berani menunjukkan ekspresi negatif, apalagi terlihat
malas. David menatapnya. Shadene mengalihkan pandangan. Awalnya hanya untuk
menghindari kontak mata dengan David, tapi matanya malah menemukan sebuah kursi
di seberang kolam renang, tempat mereka berada. Kursi itu, sepertinya boleh
juga untuk menjadi objek sihir, memenuhi permintaan Gordon yang sejak tadi sama
sekali tidak ia gubris.
Si gadis bersurai cokelat panjang menjentikkan
telunjuk. Benaknya merapalkan sesuatu dengan demikian khidmatnya. Yang benar
saja, kalau percobaan ini gagal, bukan hanya ia yang akan jadi objek amukan
Gordon. David juga bisa kena imbasnya. Dan apabila hal itu terjadi, Shadene
akan mengalami mimpi buruk dua kali. Dari Gordon untuk saat ini, dan balasan
dari David keesokan harinya. Tidak, tidak. Shadene sudah kenyang hanya dengan memikirkannya.
Kursi kayu di pinggir kolam renang terbakar
seketika. Rapalannya sukses. Padahal ia tidak mempraktikannya selama kurang
lebih enam bulan terakhir; Shadene hampir tidak pernah mempraktikkan apa-apa.
Gordon mengerutkan kening. Melihat itu, ada
perasaan waswas yang merubung sekujur tubuh Shadene. Dari luar sampai dalam.
Satu,
dua, tiga, empat ....
Shadene bahkan sudah menghitung detik,
mempersiapkan mental kalau saja Gordon tiba-tiba melengking. Satu detik terasa
lama bergelantungan di udara, seperti mengejek Shadene dengan lidah yang
menjuntai keluar. Shadene ingin cepat berlalu tapi bahkan ia sendiri takut
membayangkan apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Dan David masih tidak
berekspresi. Pria itu sebenarnya waswas juga. Adik perempuannya itu hampir
tidak bisa diharapkan.
"Pyrokinetik?" Gordon bersuara. Oh,
tidak ada lengkingan, teriakan atau semacamnya? Tidak. Jangan senang dulu. Ini
bisa saja menjadi lebih buruk.
Shadene tak bisa menangkap jelas apakah itu
pertanyaan ataukah penyataan. Sang hawa menunduk. Ia tahu ia telah gagal—lagi—di
mata Gordon. "Siapa yang memintamu melakukan pyrokinetik? Aku memintamu
melakukan sesuatu yang lebih mengagumkan."
"Ayah, aku--"
"David, kau tidak melatih adikmu?"
David menoleh. Mata ayah dan anak itu bertemu pandang. Terang saja David
bingung sendiri. Ia ingat betul Shadene menguasai sihir. Nyaris semua sihir
yang Gordon ajarkan Shadene bisa melakukannya. Tapi kenapa gadis itu malah
melakukan hal kecil semacam pyrokinetik? Apa saja yang ia lakukan selama ini?
Shadene melanjutkan kalimatnya yang terputus
bahkan sebelum David sempat menjawab pertanyaan ayahnya, "Aku tidak bisa.
Aku tidak sebaik David dalam melakukan sihir, dan aku ... memang tidak pernah
berniat menjadi penyihir hebat sepertimu."
"SHAD!!"
Sepasang adik-kakak itu tersentak oleh
lengkingan penuh amarah ayahnya. Yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga.
Gordon, emosinya bisa tersulut semudah sehelai daun bergoyang tertiup angin.
"Anak-anakku akan menjadi penerusku.
Penyihir hebat! Keluarga Gerynd adalah penyihir hebat!"
Gadis yang biasa dipanggil Shad itu
menyembunyikan wajah dibalik juntaian surai cokelatnya. Inilah mengapa Shadene
yakin bahwa tempatnya bukan di sini, di rumah yang setiap sisinya adalah campur
tangan sihir. Bukan ini yang Shad mau. Dipaksa melakukan sesuatu yang tidak
diinginkan, siapa yang akan menyukai hal itu?
"Darah yang mengalir dalam tubuhmu itu
adalah darahku. Darah seorang penyihir!"
David mengintip adik perempuannya dari celah
poni. Shadene cemberut di balik tundukannya. Sepatu di kaki kanan anak gadis
itu menggesek-gesek tanah. Dia terlihat persis seperti anak kecil yang sedang
dimarahi ayahnya karena terlalu banyak makan permen.
"Jika bukan dunia sihir yang akan kau
masuki, lalu apa?" tanya Gordon tanpa merendahkan nada. Sebuah pertanyaan
yang tak akan pernah berani Shad jawab, meskipun jawabannya sudah terpatri
dengan sangat jelas di dalam hatinya. "Jika kau ingin menjadi seorang exorcist, lupakan saja. Sampai aku mati
pun aku tak akan membiarkan keturunan Gerynd melakukan apa yang tidak
seharusnya mereka lakukan."
"Kalau begitu katakan saja aku bukan
keturunan Gerynd." Shadene mengangkat kepala dengan segenap keberanian.
David ikut tegak seketika. Kalimat lancang itu....
"Kau ... bilang apa tadi?" Gordon
hanya ingin memastikan. Bukan. Dia mendengar apa yang puterinya katakan. Bahkan
sangat jelas. Tapi ia berharap ada yang salah dengan pendengarannya.
"Mari kita katakan bahwa aku bukan
anakmu. Aku bukan keturunan Gerynd. Aku tidak punya alasan untuk menguasai
sihir dan aku punya hak melakukan apa yang kumau." tegas Shad. "Sudah
cukup kau membatasi gerakku selama enam belas tahun ini."
Beberapa saat hanya riuh amukan angin malam
yang terdengar. Tusukan udara malam juga sudah tidak terasa lagi. Kulit dan
tubuh ketiganya sudah terlanjur kaku karena luapan perasaan masing-masing.
Tertusuk, tertampar, terjerembab dalam hingga seperti lepas dari alam sadar.
Enam puluh satu tahun Gordon hidup di dunia, belum pernah ia seterkejut ini.
Bahkan ini menyangkut harga dirinya yang dibanting, diinjak-injak, dan bagai dibuang
ke sungai penuh buaya. Shadene, anak gadis Gordon satu-satunya baru saja
memutuskan hubungan kekeluargaan secara sepihak. Dan sampai kapan pun itu tidak
akan mejadi keputusan yang sah.
*
Shadene tak peduli sejak kapan ia sudah
berlari sampai gerbang rumahnya yang tinggi menjulang. Yang ia tahu adalah
bahwa ia harus bisa menghindari bola-bola cahaya kehijauan yang mengejarnya.
Sesekali bola-bola itu menubruk tembok dan pepohonan, membuat semuanya runtuh
dan mau tak mau Shad harus mempercepat larinya jika masih ingin melihat bulan
sabit besok malam. Gelegar suara bola berpengaruh sihir yang menabrak tembok
hampir memekakkan telinga. Ini mirip seperti sedang terjadi badai tornado yang
lapar akan nyawa.
Dan Shad masih gigih berlari menghindar. Ia
tidak mengerti mengapa tiap terburu-buru, waktu selalu terasa berjalan lambat.
Apakah koridor trotoar yang memanjang atau hanya perasaan Shad saja. Persetan.
Shad hanya harus berlari sekarang. Suara amukan Gordon masih bisa sayup-sayup
Shad dengar.
Tubuh sang hawa terpental. Gravitasi
membantingnya ke tanah, dan itu benar-benar sakit rasanya. Mau tak mau Shad
harus rela jika ia harus patah tulang di sini. Pembatas Totten memang haram
dilintasi, dan Shad tidak tahu jika ia sudah membentur pembatas itu. Gadis
bermanik cokelat itu hanya tahu kalau ia mulai melompati pagar menuju ke hutan
dan menerobos air sungai yang dangkal. Ia tidak sadar pembatas haram itu sudah
ada di depan matanya. Lagipula hutan ini gelap sekali.
Biasanya keturunan penyihir yang berusaha
melewati pembatas Totten akan mati. Karena mencoba melompat ke dimensi lain
sama halnya dengan menyalahi kodrat mereka untuk hidup di dunia sihir. Karena
mereka terlahir untuk sihir. Dan coba-coba menembus Totten berarti coba-coba
menyalahi takdir. Wajar jika ratusan korban berakhir di sini. Awalnya Shad
pikir ia akan menjadi satu di antara ratusan orang malang tersebut. Tapi
sekarang, Shad tahu bahwa ia memang berbeda.
Shad berhenti meringis ketika ia sadar kini
dirinya berada di dimensi lain. Ia menatap pembatas Totten yang terlihat
seperti air yang membelah udara sampai langit. Sang gadis menyingkirkan rambut
yang menghalangi pandangannya. Entah bagaimana harus dijelaskan raut wajah Shad
saat ini. Ia terlalu takjub untuk disebut sekedar terkejut. Rasa sakit di
tubuhnya menjadi urusan nomor dua sekarang. Yang ada di hadapannya kini lebih
menarik perhatiannya daripada itu semua.
Dimensi lain. Dengan udara yang lebih basah
dari dunia sihir. Shad hanya minta agar ini bukan mimpi indah tengah malam.
*
Bangunan megah di hadapannya adalah gedung
Exorcist Academy. Tinggi menjulang dengan lahan yang sangat luas. Shad sudah
melepas sepatu flatnya sejak tadi. Sekarang ia bisa merasakan lembabnya tanah
berumput Exorcist Academy. Tanah ini pasti subur, pikirnya. Shad tidak lagi
berpikir debu dapat mengotori kakinya. Tidak. Ini kali pertama ia memijak
rumput yang sejuk. Tidak ada tanah yang subur di dunia sihir. Ya, pepohonan
memang tumbuh, tapi sihirlah yang menjadi pupuknya. Mengingat hal-hal itu
membuat Shad sadar akan sesuatu. Dunia yang ia tempati sangat luas. Ia tidak
akan pernah tahu jika batas itu tidak ia tembus, bukan?
"Aku tidak menyesal." Sebuah
seringaian mengakhiri bisikan dari bibirnya yang pucat.
FIN
Spacia Shadene