Rabu, 09 Desember 2015

New Place, New Life

Gordon melipat lengan di dada. Menunggu respon anak gadisnya untuk memulai apa yang telah ia perintahkan. Air mukanya selalu datar. Sama halnya dengan David di sebelahnya. Tapi mata David tergolong sayu dibanding mata ayahnya yang tegas dan menusuk.

Shadene, satu-satunya perempuan di antara dua pria jangkung itu merasa terpojok. Sebenarnya malas, tapi jika di hadapan ayahnya, ia tidak pernah berani menunjukkan ekspresi negatif, apalagi terlihat malas. David menatapnya. Shadene mengalihkan pandangan. Awalnya hanya untuk menghindari kontak mata dengan David, tapi matanya malah menemukan sebuah kursi di seberang kolam renang, tempat mereka berada. Kursi itu, sepertinya boleh juga untuk menjadi objek sihir, memenuhi permintaan Gordon yang sejak tadi sama sekali tidak ia gubris.

Si gadis bersurai cokelat panjang menjentikkan telunjuk. Benaknya merapalkan sesuatu dengan demikian khidmatnya. Yang benar saja, kalau percobaan ini gagal, bukan hanya ia yang akan jadi objek amukan Gordon. David juga bisa kena imbasnya. Dan apabila hal itu terjadi, Shadene akan mengalami mimpi buruk dua kali. Dari Gordon untuk saat ini, dan balasan dari David keesokan harinya. Tidak, tidak. Shadene sudah kenyang hanya dengan memikirkannya.

Kursi kayu di pinggir kolam renang terbakar seketika. Rapalannya sukses. Padahal ia tidak mempraktikannya selama kurang lebih enam bulan terakhir; Shadene hampir tidak pernah mempraktikkan apa-apa.

Gordon mengerutkan kening. Melihat itu, ada perasaan waswas yang merubung sekujur tubuh Shadene. Dari luar sampai dalam.

Satu, dua, tiga, empat ....

Shadene bahkan sudah menghitung detik, mempersiapkan mental kalau saja Gordon tiba-tiba melengking. Satu detik terasa lama bergelantungan di udara, seperti mengejek Shadene dengan lidah yang menjuntai keluar. Shadene ingin cepat berlalu tapi bahkan ia sendiri takut membayangkan apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Dan David masih tidak berekspresi. Pria itu sebenarnya waswas juga. Adik perempuannya itu hampir tidak bisa diharapkan.

"Pyrokinetik?" Gordon bersuara. Oh, tidak ada lengkingan, teriakan atau semacamnya? Tidak. Jangan senang dulu. Ini bisa saja menjadi lebih buruk.

Shadene tak bisa menangkap jelas apakah itu pertanyaan ataukah penyataan. Sang hawa menunduk. Ia tahu ia telah gagal—lagi—di mata Gordon. "Siapa yang memintamu melakukan pyrokinetik? Aku memintamu melakukan sesuatu yang lebih mengagumkan."

"Ayah, aku--"

"David, kau tidak melatih adikmu?" David menoleh. Mata ayah dan anak itu bertemu pandang. Terang saja David bingung sendiri. Ia ingat betul Shadene menguasai sihir. Nyaris semua sihir yang Gordon ajarkan Shadene bisa melakukannya. Tapi kenapa gadis itu malah melakukan hal kecil semacam pyrokinetik? Apa saja yang ia lakukan selama ini?

Shadene melanjutkan kalimatnya yang terputus bahkan sebelum David sempat menjawab pertanyaan ayahnya, "Aku tidak bisa. Aku tidak sebaik David dalam melakukan sihir, dan aku ... memang tidak pernah berniat menjadi penyihir hebat sepertimu."

"SHAD!!"

Sepasang adik-kakak itu tersentak oleh lengkingan penuh amarah ayahnya. Yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga. Gordon, emosinya bisa tersulut semudah sehelai daun bergoyang tertiup angin.

"Anak-anakku akan menjadi penerusku. Penyihir hebat! Keluarga Gerynd adalah penyihir hebat!"
Gadis yang biasa dipanggil Shad itu menyembunyikan wajah dibalik juntaian surai cokelatnya. Inilah mengapa Shadene yakin bahwa tempatnya bukan di sini, di rumah yang setiap sisinya adalah campur tangan sihir. Bukan ini yang Shad mau. Dipaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, siapa yang akan menyukai hal itu?

"Darah yang mengalir dalam tubuhmu itu adalah darahku. Darah seorang penyihir!"
David mengintip adik perempuannya dari celah poni. Shadene cemberut di balik tundukannya. Sepatu di kaki kanan anak gadis itu menggesek-gesek tanah. Dia terlihat persis seperti anak kecil yang sedang dimarahi ayahnya karena terlalu banyak makan permen.

"Jika bukan dunia sihir yang akan kau masuki, lalu apa?" tanya Gordon tanpa merendahkan nada. Sebuah pertanyaan yang tak akan pernah berani Shad jawab, meskipun jawabannya sudah terpatri dengan sangat jelas di dalam hatinya. "Jika kau ingin menjadi seorang exorcist, lupakan saja. Sampai aku mati pun aku tak akan membiarkan keturunan Gerynd melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan."

"Kalau begitu katakan saja aku bukan keturunan Gerynd." Shadene mengangkat kepala dengan segenap keberanian. David ikut tegak seketika. Kalimat lancang itu....

"Kau ... bilang apa tadi?" Gordon hanya ingin memastikan. Bukan. Dia mendengar apa yang puterinya katakan. Bahkan sangat jelas. Tapi ia berharap ada yang salah dengan pendengarannya.

"Mari kita katakan bahwa aku bukan anakmu. Aku bukan keturunan Gerynd. Aku tidak punya alasan untuk menguasai sihir dan aku punya hak melakukan apa yang kumau." tegas Shad. "Sudah cukup kau membatasi gerakku selama enam belas tahun ini."

Beberapa saat hanya riuh amukan angin malam yang terdengar. Tusukan udara malam juga sudah tidak terasa lagi. Kulit dan tubuh ketiganya sudah terlanjur kaku karena luapan perasaan masing-masing. Tertusuk, tertampar, terjerembab dalam hingga seperti lepas dari alam sadar. Enam puluh satu tahun Gordon hidup di dunia, belum pernah ia seterkejut ini. Bahkan ini menyangkut harga dirinya yang dibanting, diinjak-injak, dan bagai dibuang ke sungai penuh buaya. Shadene, anak gadis Gordon satu-satunya baru saja memutuskan hubungan kekeluargaan secara sepihak. Dan sampai kapan pun itu tidak akan mejadi keputusan yang sah.


*


Shadene tak peduli sejak kapan ia sudah berlari sampai gerbang rumahnya yang tinggi menjulang. Yang ia tahu adalah bahwa ia harus bisa menghindari bola-bola cahaya kehijauan yang mengejarnya. Sesekali bola-bola itu menubruk tembok dan pepohonan, membuat semuanya runtuh dan mau tak mau Shad harus mempercepat larinya jika masih ingin melihat bulan sabit besok malam. Gelegar suara bola berpengaruh sihir yang menabrak tembok hampir memekakkan telinga. Ini mirip seperti sedang terjadi badai tornado yang lapar akan nyawa.

Dan Shad masih gigih berlari menghindar. Ia tidak mengerti mengapa tiap terburu-buru, waktu selalu terasa berjalan lambat. Apakah koridor trotoar yang memanjang atau hanya perasaan Shad saja. Persetan. Shad hanya harus berlari sekarang. Suara amukan Gordon masih bisa sayup-sayup Shad dengar.

Tubuh sang hawa terpental. Gravitasi membantingnya ke tanah, dan itu benar-benar sakit rasanya. Mau tak mau Shad harus rela jika ia harus patah tulang di sini. Pembatas Totten memang haram dilintasi, dan Shad tidak tahu jika ia sudah membentur pembatas itu. Gadis bermanik cokelat itu hanya tahu kalau ia mulai melompati pagar menuju ke hutan dan menerobos air sungai yang dangkal. Ia tidak sadar pembatas haram itu sudah ada di depan matanya. Lagipula hutan ini gelap sekali.

Biasanya keturunan penyihir yang berusaha melewati pembatas Totten akan mati. Karena mencoba melompat ke dimensi lain sama halnya dengan menyalahi kodrat mereka untuk hidup di dunia sihir. Karena mereka terlahir untuk sihir. Dan coba-coba menembus Totten berarti coba-coba menyalahi takdir. Wajar jika ratusan korban berakhir di sini. Awalnya Shad pikir ia akan menjadi satu di antara ratusan orang malang tersebut. Tapi sekarang, Shad tahu bahwa ia memang berbeda.
Shad berhenti meringis ketika ia sadar kini dirinya berada di dimensi lain. Ia menatap pembatas Totten yang terlihat seperti air yang membelah udara sampai langit. Sang gadis menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya. Entah bagaimana harus dijelaskan raut wajah Shad saat ini. Ia terlalu takjub untuk disebut sekedar terkejut. Rasa sakit di tubuhnya menjadi urusan nomor dua sekarang. Yang ada di hadapannya kini lebih menarik perhatiannya daripada itu semua.

Dimensi lain. Dengan udara yang lebih basah dari dunia sihir. Shad hanya minta agar ini bukan mimpi indah tengah malam.

*

Bangunan megah di hadapannya adalah gedung Exorcist Academy. Tinggi menjulang dengan lahan yang sangat luas. Shad sudah melepas sepatu flatnya sejak tadi. Sekarang ia bisa merasakan lembabnya tanah berumput Exorcist Academy. Tanah ini pasti subur, pikirnya. Shad tidak lagi berpikir debu dapat mengotori kakinya. Tidak. Ini kali pertama ia memijak rumput yang sejuk. Tidak ada tanah yang subur di dunia sihir. Ya, pepohonan memang tumbuh, tapi sihirlah yang menjadi pupuknya. Mengingat hal-hal itu membuat Shad sadar akan sesuatu. Dunia yang ia tempati sangat luas. Ia tidak akan pernah tahu jika batas itu tidak ia tembus, bukan?

"Aku tidak menyesal." Sebuah seringaian mengakhiri bisikan dari bibirnya yang pucat.


FIN


Spacia Shadene

Tidak ada komentar:

Posting Komentar