Dua hari yang lalu rambut sepunggungnya belum
berubah kecokelatan seperti saat ini. Bahkan tiga hari sebelum ini, gadis
dengan perawakan jangkung bernama Shadene itu masih mendengar David mengulangi
kebiasaan buruknya, memanggil Shad dengan julukan 'Si Rambut Emas', karena
warna rambutnya yang memang sedemikian mencolok. Tapi Shad tak tahu perubahan
ini akan terjadi, bahkan tidak pernah menyangka.
Ia tak pernah tahu bahwa menembus dimensi lain
dari dunia sihir dapat mempengaruhi tampilan fisiknya. Masih beruntung ia tidak
jatuh sakit atau semacamnya karena nekad menembus perbatasan terlarang Totten.
Kalau pun rambutnya menjadi cokelat seutuhnya, Shad tidak akan menyesal. Sejak
dulu ia iri melihat warna kecokelatan pada rambut David, kakaknya. Jadi ini
kesempatan bagus untuk memiliki rambut baru, rambut denganwarna alami yang ia
dambakan. Setidaknya itu membuat Shad tidak terlalu menyesal untuk saat ini.
Shadene bertahan pada posisi merangkaknya.
Tersenyum lebar melihat berubahan mahkota kepalanya itu dari pantulan dirinya
sendiri di air danau. Ujung-ujung rambutnya sudah mencumbu dinginnya air yang
sedang ramah tanpa tersapu angin itu. Warna baru pada rambutnya itu, meskipun
terkesan seperti kehilangan cahayanya, tapi berhasil membuat Shad betah
berlama-lama menumpu badannya dengan tangan demi menatap hal yang masih terasa
aneh baginya itu. Ini mengingatkan dirinya pada David.
"Kau terlihat aneh." sang gadis
bicara seolah-olah yang ada di pantulan air danau itu bukanlah dirinya. Entah bagaimana
pemandangan itu sangat menarik baginya. Rasanya aneh, tapi ia suka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar