“Ashley,
bersiap-siaplah, sayang!” teriak Nyonya Stanford dari kamar tidurnya di tengah
jeda memoles lipstik ke permukaan bibirnya. Supir keluarga Stanford sudah
memanaskan mobil di garasi.
Sedangkan Ashley, remaja perempuan berusia enam
belas tahun itu duduk di pinggir ranjangnya. Gorden kamar ia tutup, sehingga
membuat seisi kamar jadi minim cahaya matahari.
“Tetap di sini
sampai aku kembali,” tegas Ashley. Dengan ini ia sudah mengatakan hal itu
kira-kira sebanyak lima kali. Meskipun begitu Margareth tetap mengangguk. Gadis
cantik dengan paras bak boneka, diperindah dengan mata jernih bermanik biru
yang cerah dan rambut blonde lurus sepinggang, membuat Margareth tampak dua
tahun lebih muda daripada Ashley, meskipun nyatanya mereka berdua seumuran.
“Ashley?” Nyonya
Stanford mengetuk pintu. Ashley melotot kaget, bisa gawat kalau ibunya tahu ia
bicara pada Margareth lagi.
“Ikut aku,”
ditariknya lengan Margareth agar mengikutinya menuju lemari pakaian di pojok
ruangan, lantas membuka pintunya lebar-lebar. “Cepat bersembunyi,” si gadis
berwajah boneka langsung masuk. Ashley membantu memberikan sedikit dorongan
agar Margareth bisa bergerak lebih cepat.
Brukk! Pintu
lemari terbanting. Ashley berbalik dan menahan benda kayu itu dengan tubuhnya
sendiri.
“Ashley?” sang ibu
menyembulkan kepala dari balik pintu kamar. Wanita itu melangkah masuk untuk
memastikan jika Ashley sudah siap.
“Menyembunyikan
temanmu itu lagi?” Nyonya Stanford mengelus rambut anak bungsunya dengan penuh
kasih sayang. Manik hazelnya menelusuri tiap inci wajah Ashley yang tidak
menunjukkan ekspresi berarti. “Boleh ibu lihat temanmu?” tanya Nyonya Stanford
hati-hati.
Anak gadis itu
terdiam.
Tapi Nyonya
Stanford tidak menunggu jawaban. Tangannya yang mulai keriput meraih handler lemari pakaian Ashley. Anak itu
menyingkir teratur, membiarkan sang ibu menemukan Margareth di dalam lemari
pakaiannya. Suara berderit terdengar, pintu lemari dibuka lebar. Nyonya
Stanford menatap ruang kosong di bawah beberapa helai pakaian Ashley yang
digantung rapi. Tangan kirinya mendorong pakaian-pakaian itu ke samping agar
tak menghalangi pandangan. Tapi tetap hanya ruang kosong yang ia dapati di
sana.
Wanita itu
tersenyum tipis. Kepalanya menoleh pada si bungsu yang kelihatan gelisah.
Terakhir kali Ashley memperkenalkan Margareth pada seisi rumah, tak satu pun
orang mempercayai kata-katanya. Padahal Ashley ingat betul dan tak akan
melupakan ajaran kedua orangtuanya untuk tidak berbohong. Saat ia berkeliling
rumah memperkenalkan Margareth pun Ashley sama sekali tidak berbohong, tapi
semua orang malah membisu atau lebih buruk, berpura-pura tak mendengar.
“Ibu, biarkan Margareth
di sini sampai aku pulang.” Ashley memelas, mengguncangkan lengan kiri ibunya
minta dikasihani.
Nyonya Stanford
tersenyum tipis. Tangannya terulur menyentuh pipi tembam anak bungsunya itu.
“Kita harus berangkat sekarang,”
“Margareth
bagaimana?”
“Nanti kita
bicarakan itu lagi setelah sampai di psikiater.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar