Rabu, 09 Desember 2015

Ashley & Margareth

“Ashley, bersiap-siaplah, sayang!” teriak Nyonya Stanford dari kamar tidurnya di tengah jeda memoles lipstik ke permukaan bibirnya. Supir keluarga Stanford sudah memanaskan mobil di garasi. 

Sedangkan Ashley, remaja perempuan berusia enam belas tahun itu duduk di pinggir ranjangnya. Gorden kamar ia tutup, sehingga membuat seisi kamar jadi minim cahaya matahari.

“Tetap di sini sampai aku kembali,” tegas Ashley. Dengan ini ia sudah mengatakan hal itu kira-kira sebanyak lima kali. Meskipun begitu Margareth tetap mengangguk. Gadis cantik dengan paras bak boneka, diperindah dengan mata jernih bermanik biru yang cerah dan rambut blonde lurus sepinggang, membuat Margareth tampak dua tahun lebih muda daripada Ashley, meskipun nyatanya mereka berdua seumuran.

“Ashley?” Nyonya Stanford mengetuk pintu. Ashley melotot kaget, bisa gawat kalau ibunya tahu ia bicara pada Margareth lagi.

“Ikut aku,” ditariknya lengan Margareth agar mengikutinya menuju lemari pakaian di pojok ruangan, lantas membuka pintunya lebar-lebar. “Cepat bersembunyi,” si gadis berwajah boneka langsung masuk. Ashley membantu memberikan sedikit dorongan agar Margareth bisa bergerak lebih cepat.

Brukk! Pintu lemari terbanting. Ashley berbalik dan menahan benda kayu itu dengan tubuhnya sendiri.

“Ashley?” sang ibu menyembulkan kepala dari balik pintu kamar. Wanita itu melangkah masuk untuk memastikan jika Ashley sudah siap.

“Menyembunyikan temanmu itu lagi?” Nyonya Stanford mengelus rambut anak bungsunya dengan penuh kasih sayang. Manik hazelnya menelusuri tiap inci wajah Ashley yang tidak menunjukkan ekspresi berarti. “Boleh ibu lihat temanmu?” tanya Nyonya Stanford hati-hati.
Anak gadis itu terdiam.

Tapi Nyonya Stanford tidak menunggu jawaban. Tangannya yang mulai keriput meraih handler lemari pakaian Ashley. Anak itu menyingkir teratur, membiarkan sang ibu menemukan Margareth di dalam lemari pakaiannya. Suara berderit terdengar, pintu lemari dibuka lebar. Nyonya Stanford menatap ruang kosong di bawah beberapa helai pakaian Ashley yang digantung rapi. Tangan kirinya mendorong pakaian-pakaian itu ke samping agar tak menghalangi pandangan. Tapi tetap hanya ruang kosong yang ia dapati di sana.

Wanita itu tersenyum tipis. Kepalanya menoleh pada si bungsu yang kelihatan gelisah. Terakhir kali Ashley memperkenalkan Margareth pada seisi rumah, tak satu pun orang mempercayai kata-katanya. Padahal Ashley ingat betul dan tak akan melupakan ajaran kedua orangtuanya untuk tidak berbohong. Saat ia berkeliling rumah memperkenalkan Margareth pun Ashley sama sekali tidak berbohong, tapi semua orang malah membisu atau lebih buruk, berpura-pura tak mendengar.

“Ibu, biarkan Margareth di sini sampai aku pulang.” Ashley memelas, mengguncangkan lengan kiri ibunya minta dikasihani.

Nyonya Stanford tersenyum tipis. Tangannya terulur menyentuh pipi tembam anak bungsunya itu. “Kita harus berangkat sekarang,”

“Margareth bagaimana?”


“Nanti kita bicarakan itu lagi setelah sampai di psikiater.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar