Rabu, 09 Desember 2015

Gifts

Langit masih benar-benar buta ketika Eileen keluar dari pekarangan rumahnya dan berjalan melompati pagar pembatas jalan. Perempuan muda dengan rambut cokelatnya yang terurai asal hingga punggung itu tampak begitu lincah melompati segala sesuatu yang menghalangi jalannya. Ia berjalan masuk ke dalam sebuah perkebunan anggur yang bahkan tak ia ketahui siapa pemiliknya.
“Eileen!” teriakan seorang wanita paruh baya menggema di seisi hutan. Eileen menoleh sekilas ke belakang. Tak satu pun orang tampak di sana. Eileen mengeluarkan senyuman miringnya. “Dasar nekad. Dia piker bisa menemukanku.” Gadis itu lantas berlari dengan kekuatan sedang. Bukan lagi perkebunan yang ada di sisni. Ia mulai memasuki hutan. Udara dingin semakin menekannya. Pakaiannya yang tipis memaksanya menahan gigitan udara yang menusuk tulang.
“Gadis kurang ajar! Eileen, kau akan tahu apa akibatnya nanti!”
Lengkingan itu terdengar dari kejauhan. Jauh di balik punggungnya. Eileen tak tertarik merespon. Gadis dengan dress scokelat selutut itu malah melanjutkan perjalanannya. Hanya berbekalkan sinar bulan yang menelusup dari sela-sela daun, ia pun sampai di sebuah gubuk sederhana. Tiga buah anak tangga dari kayu ia lewati dengan cepat. “Bloody!” serunya.
Pintu gubuk terbuka. Sinar lilin mengintip dari sela pintu yang semakin melebar. Seorang gadis yang tampak seusia dengannya menyembul dari balik pitu.
“Oh, kau belum tidur?”
“Hampir saja, sebelum kau berteriak.”
Eileen menerobos masuk, melewati tubuh yang tingginya hanya sepundaknya itu begitu saja. “Kau tak akan menyesal menunda tidurmu,” Eileen bersandar di dinding gubuk dan tersenyum miring. Tangan kanannya terangkat hingga dada, kemudian mengepal seolah menggenggam sesuatu. Ia memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Gadis mungil yang diketahui bernama Bloody itu hanya menatap Eileen, menunggu apa yang akan ia lakukan.
Lambat laun secercah cahaya timbul dari sela-sela jemari Eileen yang terkepal. Semakin lama semakin menyilaukan. Dan Bloody pun menatapnya semakin intens, ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kepalannya terbuka, berbarengan dengan sepasang mata Eileen yang kembali memamerkan warna aquanya yang begitu cantik. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk sebelah sayap berwarna biru Kristal menggantung dari jemari Eileen.
“Astaga!” Bloody hamper saja berteriak takjub. “Eileen!” tawa bahagianya meledak. Eileen hanya terkekeh di tempatnya bersandar.
Bloody secepat kilat sudah berada di hadapan Eileen. Ia langsung merampas benda itu dari tangan Eileen dan memperhatikannya baik-baik. Rambut panjangnya yang berwarna hijau toska menjuntai menutupi wajahnya saat sang pemilik menunduk menatap benda cantik tersebut.
“Jadi sekarang tugasku selesai dan kau boleh pergi.” Ujar Eileen santai. Melipat tangan di depan dada. Bloody mendongak menatap Eileen yang kembali pada tampang datarnya. Pupil biru langit Bloody dan aqua milik Eileen beradu pandang. Eilen tak mengerti, tapi ia sendiri tetap menatap balik wajah imut di hadapannya.
“Kau mau imbalan apa dariku?”
Eileen diam. Sebenarnya ia melakukan itu tanpa mengharapkan apa-apa. “Otak? Darah rubah? Kepala?”
“Ck, sudahlah. Aku manusia.”
Bloody baru teringat bahwa gadis berwajah tirus itu adalah manusia. Selama perempuan tujuh belas tahun itu menjalankan tugasnya, ia melaksanakannya dengan baik dan sangat terarah. Begitu lincah dan cekatan, hingga Bloody hamper saja lupa bahwa Eileen adalah manusia, bukan siluman rubah seperti dirinya yang bisa bergerak lincah dan serba cepat.
Bloody mengangguk. “Ah, ya. Aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang nanti.”
“Siapa?”
Siluman rubah itu tertawa. “Kau akan tahu. Dan kau akan menyukainya. Aku yakin.”
“Manusia?” kening Eileen berkerut. Berusaha menebak-nabak. “Ya, tampan dan,… sama sepertimu, cekatan.”
Tampan? Itu artinya orang tersebut adalah seorang pria. Eileen mengangkat sebelah alisnya. “Kau tahu bahwa keberadaan teman akan sangat percuma untukku.”
Bloody beralih lagi pada kalung di tangannya. Eileen sudah membantunya mendapatkan kalung ini, mana mungkin ia tak memberikan satu pun penghargaan sebagai rasa terimakasihnya. Setidaknya harus ada hal yang ia persembahkan. Tapi ia sendiri tak memiliki apa pun di tempat ini. Semua miliknya hanya bisa di temukan di alam asalnya. Kalau pun ia berikan pada Eileen, itu akan percuma karena manusia tak akan bisa melihat apa-apa selain yang berasal dari bumi. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya membantu Eileen memiliki teman. Setidaknya satu orang. Apalagi seorang pria, bagaimana pun juga Eileen akan membutuhkan pasangan dalam hidupnya, bukan? Yah, atau minimal sekedar teman biasa.
“Aku kan segera kembali dengan hadiahnya!”

Bloody mendadak berubah menjadi kepulan asap tebal, hinnga Eileen tak dapat melihat apa pun di hadapannya selain kepulan tanpa bentuk yang jelas. Hanya berlangsung beberapa detik dan seketika seekor rubah dewasa mendongak di hadapan kaki jenjang Eileen. Hewan berbuntut panjang dan berbulu lebat itu langsung berlari keluar dari gubuk. Sangat cepat. Hingga Eileen tak sanggup untuk sekedar menahannya. Tapi memang ia tak tertarik untuk mencegah kepergiannya. Gadis itu malah berjalan menutup pintu gubuk yang reot dan melangkah menghampiri sebuah alas tidur tipis di pojok ruangan. Ia menjatuhkan dirinya dan mulai memejamkan mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar