Langit masih
benar-benar buta ketika Eileen keluar dari pekarangan rumahnya dan berjalan
melompati pagar pembatas jalan. Perempuan muda dengan rambut cokelatnya yang
terurai asal hingga punggung itu tampak begitu lincah melompati segala sesuatu
yang menghalangi jalannya. Ia berjalan masuk ke dalam sebuah perkebunan anggur
yang bahkan tak ia ketahui siapa pemiliknya.
“Eileen!” teriakan
seorang wanita paruh baya menggema di seisi hutan. Eileen menoleh sekilas ke
belakang. Tak satu pun orang tampak di sana. Eileen mengeluarkan senyuman
miringnya. “Dasar nekad. Dia piker bisa menemukanku.” Gadis itu lantas berlari
dengan kekuatan sedang. Bukan lagi perkebunan yang ada di sisni. Ia mulai
memasuki hutan. Udara dingin semakin menekannya. Pakaiannya yang tipis
memaksanya menahan gigitan udara yang menusuk tulang.
“Gadis kurang ajar!
Eileen, kau akan tahu apa akibatnya nanti!”
Lengkingan itu
terdengar dari kejauhan. Jauh di balik punggungnya. Eileen tak tertarik
merespon. Gadis dengan dress scokelat selutut itu malah melanjutkan
perjalanannya. Hanya berbekalkan sinar bulan yang menelusup dari sela-sela
daun, ia pun sampai di sebuah gubuk sederhana. Tiga buah anak tangga dari kayu
ia lewati dengan cepat. “Bloody!” serunya.
Pintu gubuk terbuka.
Sinar lilin mengintip dari sela pintu yang semakin melebar. Seorang gadis yang
tampak seusia dengannya menyembul dari balik pitu.
“Oh, kau belum tidur?”
“Hampir saja, sebelum
kau berteriak.”
Eileen menerobos masuk,
melewati tubuh yang tingginya hanya sepundaknya itu begitu saja. “Kau tak akan
menyesal menunda tidurmu,” Eileen bersandar di dinding gubuk dan tersenyum
miring. Tangan kanannya terangkat hingga dada, kemudian mengepal seolah
menggenggam sesuatu. Ia memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Gadis mungil
yang diketahui bernama Bloody itu hanya menatap Eileen, menunggu apa yang akan
ia lakukan.
Lambat laun secercah cahaya timbul dari sela-sela jemari Eileen yang
terkepal. Semakin lama
semakin menyilaukan. Dan Bloody pun menatapnya semakin
intens, ingin tahu apa yang akan
terjadi selanjutnya.
Kepalannya terbuka,
berbarengan dengan sepasang mata Eileen yang kembali memamerkan warna aquanya
yang begitu cantik. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk sebelah sayap
berwarna biru Kristal menggantung
dari jemari Eileen.
“Astaga!” Bloody hamper
saja berteriak takjub. “Eileen!” tawa bahagianya meledak. Eileen hanya terkekeh
di tempatnya bersandar.
Bloody secepat kilat
sudah berada di hadapan Eileen. Ia langsung merampas benda itu dari tangan
Eileen dan memperhatikannya baik-baik. Rambut panjangnya yang berwarna hijau
toska menjuntai menutupi wajahnya saat sang pemilik menunduk menatap benda
cantik tersebut.
“Jadi sekarang tugasku
selesai dan kau boleh pergi.” Ujar Eileen santai. Melipat tangan di depan dada.
Bloody mendongak menatap Eileen yang kembali pada tampang datarnya. Pupil biru
langit Bloody dan aqua milik Eileen beradu pandang. Eilen tak mengerti, tapi ia
sendiri tetap menatap balik wajah imut di hadapannya.
“Kau mau imbalan apa
dariku?”
Eileen diam. Sebenarnya ia melakukan itu tanpa mengharapkan
apa-apa. “Otak? Darah rubah? Kepala?”
“Ck, sudahlah. Aku
manusia.”
Bloody baru teringat
bahwa gadis berwajah tirus itu adalah manusia. Selama perempuan tujuh belas
tahun itu menjalankan tugasnya, ia melaksanakannya dengan baik dan sangat terarah. Begitu lincah dan cekatan, hingga
Bloody hamper saja lupa bahwa Eileen adalah manusia, bukan siluman rubah
seperti dirinya yang
bisa bergerak lincah dan serba cepat.
Bloody mengangguk. “Ah,
ya. Aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang nanti.”
“Siapa?”
Siluman rubah itu
tertawa. “Kau akan tahu. Dan kau akan menyukainya. Aku yakin.”
“Manusia?” kening
Eileen berkerut. Berusaha menebak-nabak. “Ya, tampan dan,… sama sepertimu,
cekatan.”
Tampan? Itu artinya orang tersebut adalah seorang pria.
Eileen mengangkat sebelah alisnya. “Kau tahu bahwa keberadaan teman akan sangat percuma untukku.”
Bloody beralih lagi
pada kalung
di tangannya. Eileen sudah membantunya mendapatkan kalung ini, mana mungkin ia
tak memberikan satu pun penghargaan sebagai rasa terimakasihnya. Setidaknya
harus ada hal yang ia persembahkan. Tapi ia sendiri tak memiliki apa pun di
tempat ini. Semua miliknya hanya bisa di temukan di alam asalnya. Kalau pun ia berikan pada Eileen, itu
akan percuma karena manusia tak akan bisa melihat apa-apa selain yang berasal dari bumi.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan
hanya membantu Eileen memiliki teman. Setidaknya satu orang. Apalagi seorang
pria, bagaimana pun juga Eileen akan membutuhkan pasangan dalam hidupnya, bukan? Yah, atau minimal sekedar teman biasa.
“Aku kan segera kembali
dengan hadiahnya!”
Bloody mendadak berubah
menjadi kepulan asap tebal, hinnga Eileen tak dapat melihat apa pun di
hadapannya selain kepulan
tanpa bentuk yang jelas. Hanya
berlangsung beberapa
detik dan seketika seekor rubah dewasa mendongak di hadapan kaki jenjang Eileen. Hewan berbuntut panjang dan
berbulu lebat itu langsung berlari keluar dari gubuk. Sangat cepat. Hingga
Eileen tak sanggup untuk sekedar
menahannya. Tapi memang ia tak tertarik untuk mencegah
kepergiannya. Gadis itu malah berjalan menutup pintu gubuk yang
reot dan melangkah menghampiri sebuah alas tidur tipis di pojok ruangan. Ia menjatuhkan
dirinya dan mulai memejamkan mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar