Aku menekan
kenop pintu dan mendorongnya pelan. Cahaya lampu dari balik punggungku langsung
berlomba masuk ke dalam ruangan gelap nun pengap itu. Kaki kananku maju
mendahului, debu-debu di lantai terasa kasar di telapak kakiku. Aroma ini...
aku jadi ingin cepat-cepat melihat sumbernya. Adiktif. Menenangkan.
Cklek. Saklar
lampu kutekan.
Uh, mata yang terpejam
silau itu membuat ekspresinya terlihat lucu. Aku mendekat, aromanya makin kuat.
Kau bisa bayangkan aroma debu yang pekat, berlomba-lomba menelusup ke dalam
hidungmu bersama amis yang kuat khas darah? Kau bisa bayangkan? Aku menghirup
napas dalam-dalam sampai mataku terpejam nyaman. Oh, Tuhan, darahnya harum
sekali.
“Kau tidak
melahap makan malammu lagi?” bibirku mengerucut. “Kau, kan, selalu suka ikan tuna.”
Aku mendekati pojok ruangan, tempat di mana sosok rupawan dan jangkung itu
duduk bersandar. Dia kelihatan sangat lesu. Kelelahan? Padahal dia sedang cuti
bekerja, aku sendiri yang menelepon bosnya kemarin.
Aku melipat
lutut dan melingkarkan tangan di lehernya. Bau pekat itu tak pernah gagal
mengundang endusanku pada lehernya sampai terpejam lagi. Tuhan, makhlukmu yang
satu ini milikku. Terimakasih sudah mempertemukannya denganku.
“Aku suapi, ya?”
tawarku setelah memundurkan kepala agar bisa menatap wajahnya. Kelopak matanya
bergerak pelan-pelan, berangsur-angsur menunjukkan manik hijau cerah yang ia
sembunyikan sejak tadi. Aku tersenyum, akhirnya dia membuka mata juga. Kuraih
piring keramik yang tergeletak di samping pahanya. Kusodorkan sesendok nasi bersama
sesobek fillet tuna panggang, makanan kesukaannya. Tapi ia malah menolehkan
kepala ke arah lain, menghindari sendok yang kupegang.
“Ron...” aku
memelas. “Kau belum makan sejak kemarin, sayang.”
“Permisi!” aku
menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Kalau tidak salah dengar,
sepertinya ada seseorang yang memanggil dari luar. Ck, siapa sih yang datang di
jam makan malam begini?
Aku menolehkan
kepala lagi pada Ron. Rambut hitam itu kuusap. Mengeras di beberapa bagian,
kurasa itu karena darah kering. “Jangan membuat suara apa pun, ya,” tanganku
terulur ke belakang, menarik keluar sebuah
cutter dan lakban dari saku celana. Aku butuh beberapa saat untuk mencari
ujung lakbannya. Orang di luar sana terus memanggil, aku jadi terburu-buru
memutar lakban hitam itu.
Sreeett.
Kutempelkan
benda lengket itu ke bibir Ron, seketika mengunci pergerakan mulutnya yang
sejak tadi memang enggan terbuka. Sepertinya luka robek di sudut bibirnya itu
perih, makanya ia tidak mau makan.
Dalam sekali
ayun, cutter-ku memotong lakban
tersebut. Ron tiba-tiba mengerang keras. Meskipun bibirnya terkatup, tapi
erangannya masih sangat jelas terdengar.
Oh, astaga,
pipinya terkena ujung cutter-ku yang
lancip dan agak berkarat. Sebuah sayatan yang dalam timbul di sana bersama rembesan
merah berbau amis yang makin lama makin banyak, mengalir sampai ke dagunya yang
lancip. Darah kering di sana ditimpa oleh darah segar yang baru.
Aku bangkit
berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu. Ron pernah bilang, jangan biarkan
tamu menunggu lama. Jadi aku akan segera menemuinya.
“Aku akan segera
kembali, sayang.” Seruku tanpa berbalik.
Brukk! Aku
menutup pintu terlalu kuat karena terburu-buru. Ron tidak suka kebiasaanku yang
satu itu, dia pernah membentakku karena kebiasaan membanting pintu. Aku akan
minta maaf nanti, setelah selesai mengurus tamu yang berisik itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar