Rabu, 09 Desember 2015

Psycho Side

Aku menekan kenop pintu dan mendorongnya pelan. Cahaya lampu dari balik punggungku langsung berlomba masuk ke dalam ruangan gelap nun pengap itu. Kaki kananku maju mendahului, debu-debu di lantai terasa kasar di telapak kakiku. Aroma ini... aku jadi ingin cepat-cepat melihat sumbernya. Adiktif. Menenangkan.

Cklek. Saklar lampu kutekan.

Uh, mata yang terpejam silau itu membuat ekspresinya terlihat lucu. Aku mendekat, aromanya makin kuat. Kau bisa bayangkan aroma debu yang pekat, berlomba-lomba menelusup ke dalam hidungmu bersama amis yang kuat khas darah? Kau bisa bayangkan? Aku menghirup napas dalam-dalam sampai mataku terpejam nyaman. Oh, Tuhan, darahnya harum sekali.

“Kau tidak melahap makan malammu lagi?” bibirku mengerucut. “Kau, kan, selalu suka ikan tuna.” Aku mendekati pojok ruangan, tempat di mana sosok rupawan dan jangkung itu duduk bersandar. Dia kelihatan sangat lesu. Kelelahan? Padahal dia sedang cuti bekerja, aku sendiri yang menelepon bosnya kemarin.

Aku melipat lutut dan melingkarkan tangan di lehernya. Bau pekat itu tak pernah gagal mengundang endusanku pada lehernya sampai terpejam lagi. Tuhan, makhlukmu yang satu ini milikku. Terimakasih sudah mempertemukannya denganku.

“Aku suapi, ya?” tawarku setelah memundurkan kepala agar bisa menatap wajahnya. Kelopak matanya bergerak pelan-pelan, berangsur-angsur menunjukkan manik hijau cerah yang ia sembunyikan sejak tadi. Aku tersenyum, akhirnya dia membuka mata juga. Kuraih piring keramik yang tergeletak di samping pahanya. Kusodorkan sesendok nasi bersama sesobek fillet tuna panggang, makanan kesukaannya. Tapi ia malah menolehkan kepala ke arah lain, menghindari sendok yang kupegang.

“Ron...” aku memelas. “Kau belum makan sejak kemarin, sayang.”

“Permisi!” aku menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Kalau tidak salah dengar, sepertinya ada seseorang yang memanggil dari luar. Ck, siapa sih yang datang di jam makan malam begini?

Aku menolehkan kepala lagi pada Ron. Rambut hitam itu kuusap. Mengeras di beberapa bagian, kurasa itu karena darah kering. “Jangan membuat suara apa pun, ya,” tanganku terulur ke belakang, menarik keluar sebuah cutter dan lakban dari saku celana. Aku butuh beberapa saat untuk mencari ujung lakbannya. Orang di luar sana terus memanggil, aku jadi terburu-buru memutar lakban hitam itu.

Sreeett.

Kutempelkan benda lengket itu ke bibir Ron, seketika mengunci pergerakan mulutnya yang sejak tadi memang enggan terbuka. Sepertinya luka robek di sudut bibirnya itu perih, makanya ia tidak mau makan.

Dalam sekali ayun, cutter-ku memotong lakban tersebut. Ron tiba-tiba mengerang keras. Meskipun bibirnya terkatup, tapi erangannya masih sangat jelas terdengar.
Oh, astaga, pipinya terkena ujung cutter-ku yang lancip dan agak berkarat. Sebuah sayatan yang dalam timbul di sana bersama rembesan merah berbau amis yang makin lama makin banyak, mengalir sampai ke dagunya yang lancip. Darah kering di sana ditimpa oleh darah segar yang baru.

Aku bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu. Ron pernah bilang, jangan biarkan tamu menunggu lama. Jadi aku akan segera menemuinya.

“Aku akan segera kembali, sayang.” Seruku tanpa berbalik.


Brukk! Aku menutup pintu terlalu kuat karena terburu-buru. Ron tidak suka kebiasaanku yang satu itu, dia pernah membentakku karena kebiasaan membanting pintu. Aku akan minta maaf nanti, setelah selesai mengurus tamu yang berisik itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar