Rabu, 09 Desember 2015

Unwanted Meeting

Sekali lagi mau tak mau aku harus mengibarkan bendera perang meskipun aku sama sekali tak menginginkannya. Tak ada yang memintaku. Namun setan penggoda terlalu kuat bila disandingkan dengan diriku ini. Sekarang, aku harus kembali mengunci rapat-rapat sikap ramahku yang begitu dikenal orang.

“Eileen,”

Seperti dugaanku. Dia, cepat atau lambat akan menegurku juga. Mungkin tadinya ia sama sepertiku, tak ingin menegur, namun keberadaannya yang berada tepat di sampingku dan tingkahku yang seolah-olah tak menyadari keberadaannya bisa jadi telah mendorongnya untuk menyapaku seperti sekian detik yang lalu. Aku berlagak memandangnya bingung, seolah mencoba mengingat-ingat wajahnya. Yang padahal masih sangat kuhafal di luar kepalaku.

Gadis itu tersenyum. Aku masih berakting dengan kerutan di dahiku. “Oh, Valleria?” ucapku sok memastikan. Dia mengangguk mengiyakan. “Apa kabar?” tanyanya. Aku tak tahu apakah pertanyaan itu hanya sebatas sapaan ramah sebagaimana biasanya yang orang sampaikan saat berjumpa satu sama lain atau memang benar-benar sebuah pertanyaan yang tulus. Tapi bagaimana pun, aku hanya akan kembali pada prinsip awalku apabila dipertemukan dengan gadis ini, yaitu menjadi sosok yang dingin.

“Sangat baik, sebelum akhirnya melihatmu.” Jawaban kurang ajar itu meluncur bebas dari mulutku. Otakku seolah bekerja lebih cepat daripada nuraniku. Aku mungkin, baru saja melukai hati seorang kawan dengan perasaan yang begitu rapuh. Ada semacam perasaan tak tega. Tapi apa yang bisa dibandingkan dengan sakitnya aku saat dia pergi dengan menudingku bersalah, hingga membuat pria yang kucintai beranggapan salah tentangku? Ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan itu semua.

Valleria diam. Aku mengerti kata-kataku tadi tak pantas untuk menjadi jawaban dari sapaannya yang hangat. Itu salahnya, mengapa menyapaku?

“Kurasa kau juga baik, setelah meninggalkan aku dan Mark.” Lanjutku. Menghunuskan pedang ke dadanya lebih dalam lagi. Kali ini aku sengaja. Kuulangi, aku memang sengaja. “Eil…” desisnya tak tahan atas perkataanku.

“Kau tidak tertarik menanyakan keadaanku?” ia menatapku sendu dengan iris matanya yang kecokelatan itu. Berharap sekali barangkali aku sudah memaafkan perbuatannya. “Tidak.” Jawabku singkat tanpa menatapnya.

“Oh, busku sudah datang. Aku pergi dulu.” Pamitku tak sopan, tanpa sedikit pun ingin mendengar jawabannya atas semua kata-kataku. Sudah cukup main-mainnya. Aku tak ingin melukainya lebih banyak lagi. Meskipun itu sudah kulakukan, tapi hatiku tidak bisa sepenuhnya tega menyakiti perasaan orang lain, apalagi itu Valleria, yang dulunya, sebelum kejadian itu, merupakan orang terdekat bagiku.


Aku secepat mungkin melangkah menuju bus yang sudah berhenti tepat di depanku. Langsung melangkahkan kakiku naik ke dalamnya, menyerobot orang-orang yang bahkan belum sempat turun dari bus ini. Terserah. Aku hanya ingin pergi sesegera mungkin dari sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar