Sekali lagi mau tak mau
aku harus mengibarkan bendera perang meskipun aku sama sekali tak
menginginkannya. Tak ada yang memintaku. Namun setan penggoda terlalu kuat bila
disandingkan dengan diriku ini. Sekarang, aku harus kembali mengunci
rapat-rapat sikap ramahku yang begitu dikenal orang.
“Eileen,”
Seperti dugaanku. Dia,
cepat atau lambat akan menegurku juga. Mungkin tadinya ia sama sepertiku, tak
ingin menegur, namun keberadaannya yang berada tepat di sampingku dan tingkahku
yang seolah-olah tak menyadari keberadaannya bisa jadi telah mendorongnya untuk
menyapaku seperti sekian detik yang lalu. Aku berlagak memandangnya bingung,
seolah mencoba mengingat-ingat wajahnya. Yang padahal masih sangat kuhafal di
luar kepalaku.
Gadis itu tersenyum.
Aku masih berakting dengan kerutan di dahiku. “Oh, Valleria?” ucapku sok
memastikan. Dia mengangguk mengiyakan. “Apa kabar?” tanyanya. Aku tak tahu
apakah pertanyaan itu hanya sebatas sapaan ramah sebagaimana biasanya yang orang sampaikan saat berjumpa satu
sama lain atau memang benar-benar
sebuah
pertanyaan yang
tulus. Tapi bagaimana pun, aku hanya akan kembali pada prinsip awalku apabila dipertemukan dengan gadis ini, yaitu
menjadi sosok yang dingin.
“Sangat baik, sebelum akhirnya melihatmu.” Jawaban kurang ajar itu
meluncur bebas dari mulutku. Otakku seolah bekerja lebih cepat daripada
nuraniku. Aku mungkin, baru saja melukai hati seorang kawan dengan perasaan yang begitu rapuh.
Ada semacam perasaan tak tega. Tapi apa yang bisa dibandingkan dengan sakitnya
aku saat dia pergi dengan menudingku bersalah, hingga membuat pria yang
kucintai beranggapan salah tentangku? Ini belum ada apa-apanya bila
dibandingkan dengan itu semua.
Valleria diam. Aku
mengerti kata-kataku tadi tak pantas untuk menjadi jawaban dari sapaannya yang
hangat. Itu salahnya, mengapa menyapaku?
“Kurasa kau juga baik, setelah
meninggalkan aku dan Mark.”
Lanjutku. Menghunuskan pedang ke dadanya lebih dalam lagi. Kali ini aku
sengaja. Kuulangi, aku
memang sengaja. “Eil…” desisnya tak tahan
atas perkataanku.
“Kau tidak tertarik
menanyakan keadaanku?” ia menatapku sendu dengan iris matanya yang kecokelatan itu. Berharap sekali
barangkali aku sudah memaafkan perbuatannya. “Tidak.” Jawabku singkat tanpa
menatapnya.
“Oh, busku sudah
datang. Aku pergi dulu.” Pamitku tak sopan, tanpa sedikit pun ingin mendengar
jawabannya atas semua kata-kataku. Sudah cukup main-mainnya. Aku tak ingin
melukainya lebih banyak lagi. Meskipun itu sudah kulakukan, tapi hatiku tidak
bisa sepenuhnya tega menyakiti perasaan orang lain, apalagi itu Valleria, yang
dulunya, sebelum kejadian itu, merupakan orang terdekat bagiku.
Aku secepat mungkin
melangkah menuju bus yang sudah berhenti tepat di depanku. Langsung
melangkahkan kakiku naik ke dalamnya, menyerobot orang-orang yang bahkan belum
sempat turun dari bus ini. Terserah. Aku hanya ingin pergi sesegera mungkin
dari sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar