Rabu, 09 Desember 2015

Fresh Blood

Danau Yuem tampak sangat tenang sore ini. Bersahabat dengan angin, yang bermain-main di sela-sela jemari daun pohon kelapa. Lisaac tidak biasanya ada di sekitar sini. Ia tidak begitu menyukai perairan. Yeah, mungkin lebih tepatnya takut. Tapi semenjak tadi malam, sejak tempat ini menjadi saksi pertumpahan darah klan Orzac dengan musuh seumur hidupnya, klan Chast, entah mengapa tempat ini jadi sedikit menarik. Oh, bahkan sangat menarik. Darah para petarung yang masih basah di atas pasir menebarkan wangi yang sangat menggugah.

Tidak. Lisaac bukan vampir penghisap darah atau semacamnya. Lisaac hanya gadis petarung biasa. Petarung akan selalu punya musuh. Dan aroma darah musuh adalah bau paling menyenangkan bagi setiap petarung.

Lisaac menyeringai dalam tundukan kepalanya. Rambut cokelat sebahunya terus saja dielus angin Yuem yang membawa aroma amis. Ia menikmati waktu demi waktu di sini. Dangkalnya air Yuem kadangkala mempertontonkan isi perutnya. Ikan-ikan kecil berenang di sana. Di air yang kini keruh terkontaminasi darah.

“Sayang sekali Aldonard tidak sempat mengucapkan kalimat terakhirnya.” suara Jarrel terdengar dari selatan danau Yuem. Suara daun-daun kering terinjak terdengar mendekat. Lisaac bergeming. Aroma amis masih lebih menarik daripada mendengarkan pemuda berambut pirang sebahu itu.

Dentingan nyaring terdengar ngilu. Pedang Lisaac tahu-tahu sudah terbentang, memamerkan mata nun tajam yang memantulkan mega sore hari dari langit. Satu buah panah milik Jarrel meleset, berbelok empat puluh derajat dan menancap di sebuah pohon yang tampak sudah berumur ratusan tahun.

Jarrel terkikih. “Lisaac-ku semakin berbakat setiap harinya.”

Lisaac mengangkat kepala. “Hanya dengan mendengar nama Orzac, rasanya dadaku langsung sesak karena ada terlalu banyak kebencian di dalamnya. Tapi kali ini aku sedikit berterimakasih pada klan sombong itu.” Bibir tipisnya masih mempertontonkan baiknya suasana hati Lisaac saat ini. “Berkat mereka, pandanganku tidak akan pernah terganggu lagi oleh keberadaan Aldonard dan anak-anaknya yang sialan itu.”

Lisaac menoleh ke selatan, Jarrel masih di sana dengan busurnya. “Kerajaan mereka akan hancur sebentar lagi. Ini akan menyenangkan, bukan?”

Jarrel tersenyum sekilas. Mengedarkan pandangan ke seluruh danau Yuem yang bersih dari kabut pegunungan. Yang benar saja, kalimat Lisaac tadi terdengar begitu tulus di telinganya. Lisaac benar-benar dendam pada klan Chast, penguasa timur Sintares. Klan yang sombong, dan satu-satunya klan yang tidak bersahabat dengan klan-klan lainnya untuk sekedar menambah kekuatan. Bagi klan Chast, jumlah mereka sudah sangat lebih dari cukup untuk menyandang kata kuat. Setidaknya mereka masih bisa bicara begitu, sampai tadi malam, saat akhirnya mereka gugur dalam petarungan akbar itu, hingga menyebabkan petinggi mereka merenggut nyawa dan sisa dari prajurit mereka lari tunggang langgang.

“Mau merayakan kekalahan mereka?”
Jarrel tersenyum lebar. Alis Lisaac malah bertaut jadi satu.
“Perayaan bagaimana?” tanya sang hawa. Kurang tertarik jika itu hanya acara minum-minum di kedai.

“Aku punya seorang sandera. Mau bersenang-senang?”

“Siapa?”

“Laurentia Lusimus. Istri Aldonard.” Mata Lisaac langsung terbelalak. Ia pikir keluarga inti Aldonard sudah mati dalam perang itu.

“Pastikan kau sudah mengasah pedangmu,” Jarrel menyeringai, lantas berbalik pergi. Sebelah tangannya terangkat, mengisyaratkan pada Lilaac untuk mengikutinya.

Senyum miring terbit di wajah pucat Lilaac. Perasaan senang, puas, penasaran dan tak sabar merubung relung dada Lilaac bersamaan, sampai gadis itu rasanya ingin berlari sekuat tenaga saat ini juga untuk segera memberikan pedang kesayangannya itu makan malam berupa darah segar dari klan biadab tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar