Danau Yuem
tampak sangat tenang sore ini. Bersahabat dengan angin, yang bermain-main di
sela-sela jemari daun pohon kelapa. Lisaac tidak biasanya ada di sekitar sini.
Ia tidak begitu menyukai perairan. Yeah, mungkin lebih tepatnya takut. Tapi
semenjak tadi malam, sejak tempat ini menjadi saksi pertumpahan darah klan
Orzac dengan musuh seumur hidupnya, klan Chast, entah mengapa tempat ini jadi
sedikit menarik. Oh, bahkan sangat menarik. Darah para petarung yang masih
basah di atas pasir menebarkan wangi yang sangat menggugah.
Tidak. Lisaac
bukan vampir penghisap darah atau semacamnya. Lisaac hanya gadis petarung
biasa. Petarung akan selalu punya musuh. Dan aroma darah musuh adalah bau
paling menyenangkan bagi setiap petarung.
Lisaac
menyeringai dalam tundukan kepalanya. Rambut cokelat sebahunya terus saja
dielus angin Yuem yang membawa aroma amis. Ia menikmati waktu demi waktu di
sini. Dangkalnya air Yuem kadangkala mempertontonkan isi perutnya. Ikan-ikan
kecil berenang di sana. Di air yang kini keruh terkontaminasi darah.
“Sayang sekali
Aldonard tidak sempat mengucapkan kalimat terakhirnya.” suara Jarrel terdengar
dari selatan danau Yuem. Suara daun-daun kering terinjak terdengar mendekat.
Lisaac bergeming. Aroma amis masih lebih menarik daripada mendengarkan pemuda
berambut pirang sebahu itu.
Dentingan
nyaring terdengar ngilu. Pedang Lisaac tahu-tahu sudah terbentang, memamerkan
mata nun tajam yang memantulkan mega sore hari dari langit. Satu buah panah
milik Jarrel meleset, berbelok empat puluh derajat dan menancap di sebuah pohon
yang tampak sudah berumur ratusan tahun.
Jarrel terkikih. “Lisaac-ku
semakin berbakat setiap harinya.”
Lisaac
mengangkat kepala. “Hanya dengan mendengar nama Orzac, rasanya dadaku langsung
sesak karena ada terlalu banyak kebencian di dalamnya. Tapi kali ini aku
sedikit berterimakasih pada klan sombong itu.” Bibir tipisnya masih
mempertontonkan baiknya suasana hati Lisaac saat ini. “Berkat mereka,
pandanganku tidak akan pernah terganggu lagi oleh keberadaan Aldonard dan
anak-anaknya yang sialan itu.”
Lisaac menoleh
ke selatan, Jarrel masih di sana dengan busurnya. “Kerajaan mereka akan hancur
sebentar lagi. Ini akan menyenangkan, bukan?”
Jarrel tersenyum
sekilas. Mengedarkan pandangan ke seluruh danau Yuem yang bersih dari kabut
pegunungan. Yang benar saja, kalimat Lisaac tadi terdengar begitu tulus di
telinganya. Lisaac benar-benar dendam pada klan Chast, penguasa timur Sintares.
Klan yang sombong, dan satu-satunya klan yang tidak bersahabat dengan klan-klan
lainnya untuk sekedar menambah kekuatan. Bagi klan Chast, jumlah mereka sudah
sangat lebih dari cukup untuk menyandang kata kuat. Setidaknya mereka masih
bisa bicara begitu, sampai tadi malam, saat akhirnya mereka gugur dalam
petarungan akbar itu, hingga menyebabkan petinggi mereka merenggut nyawa dan
sisa dari prajurit mereka lari tunggang langgang.
“Mau merayakan
kekalahan mereka?”
Jarrel tersenyum
lebar. Alis Lisaac malah bertaut jadi satu.
“Perayaan
bagaimana?” tanya sang hawa. Kurang tertarik jika itu hanya acara minum-minum
di kedai.
“Aku punya
seorang sandera. Mau bersenang-senang?”
“Siapa?”
“Laurentia
Lusimus. Istri Aldonard.” Mata Lisaac langsung terbelalak. Ia pikir keluarga
inti Aldonard sudah mati dalam perang itu.
“Pastikan kau
sudah mengasah pedangmu,” Jarrel menyeringai, lantas berbalik pergi. Sebelah
tangannya terangkat, mengisyaratkan pada Lilaac untuk mengikutinya.
Senyum miring
terbit di wajah pucat Lilaac. Perasaan senang, puas, penasaran dan tak sabar
merubung relung dada Lilaac bersamaan, sampai gadis itu rasanya ingin berlari
sekuat tenaga saat ini juga untuk segera memberikan pedang kesayangannya itu
makan malam berupa darah segar dari klan biadab tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar