Rabu, 09 Desember 2015

Killing to Earn Money

Sore tadi Scott membawa pulang sebuah flashdisk berisi sekumpulan film. Ia memamerkannya padaku, menunjukkan sederet panjang list film bajakan yang ia unduh dari internet. Kami berencana akan menonton satu dari sekian film-film itu untuk sekedar menghabiskan waktu luang.

Aku dan Scott adalah pasangan kekasih yang sudah tinggal seatap sejak satu setengah tahun yang lalu. Dan kami bekerja untuk orang yang sama. Bukan pekerjaan yang wah, tapi kami mencintainya. Hari ini bos memberi kami waktu libur. Si botak berkumis itu bilang kalau kami berdua sudah banyak bekerja keras dua bulan terakhir, menghasilkan result yang begitu menguntungkan dan menunjukkan kinerja yang membanggakan. Aku tersenyum senang saat mendengarnya. Maka di sinilah kami sekarang, menghadap sebuah laptop di mana flashdisk Scott sudah tertancap dengan sempurna untuk membantu kami menghabiskan malam ini.

“Membosankan sekali, bukan?” Scott bersuara dari sebelahku, mengomentari film yang sudah setengah jalan. Kami duduk di sofa panjang. Scott sudah berkali-kali menguap lebar dan mengubah posisi saking bosannya. Adegan penuh darah di layar laptop tak membuat Scott tergubris. Ah, memang, jujur saja aku juga tak suka film ini. Tulisan ‘Diambil dari kisah nyata’ tercetak jelas di spanduk yang terpasang di depan gedung bioskop. Aku melihatnya saat kebetulan lewat bersama Scott minggu kemarin. Tapi aku tahu film ini hanya berisi kebohongan yang dibuat demikian dramatis untuk menarik penonton sebanyak-banyaknya. Manusia memang menjijikan. Demi uang mereka memalsukan semua kebenaran. Kudengar polisi masih terus mengincar pelaku asli dari jual beli organ dalam manusia yang difilmkan ini.

Aku masih fokus. Masih penasaran akan kemana plot ini berjalan. Sedangkan Scott sudah merangsek membaringkan kepala di pangkuanku. Kuperhatikan bagaimana seorang perempuan di monitor mengoyak kulit seorang perempuan lain yang menjerit kesakitan. Di sampingnya, seorang pemuda langsung sigap membuka lebar sobekan di perut gadis yang tidak berdaya itu dengan dua tangan. Teriakannya sudah tak senyaring tadi, tatapannya mulai kosong menerawang ke awang-awang seolah takjub melihat rupa malaikat pencabut nyawa. Tangan sang aktor tampan, tanpa pembatas apa pun langsung masuk mengacak isi perut si gadis yang menjadi korban.

Singkat cerita, dua pelaku pembunuhan itu sudah berada di tengah hutan. Sang korban baru saja mereka kuburkan di tanah hutan yang gembur, lembab dan berbau khas. Mereka berbalik pergi mengendap-endap keluar dari hutan itu. Takut-takut ada yang melihat, khawatir ada yang memergoki pekerjaan mereka. Dengan sebuah tas berisi organ tubuh manusia yang dibungkus berlapis-lapis agar baunya tak menguar, mereka berlagak normal membelah keramaian, berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan tua  untuk menyerahkan hasil pekerjaannya pada sang atasan yang bersembunyi di dalam sana.

Aku mendorong kepala Scott dengan kasar agar bisa memajukan tubuh lantas menutup laptop dengan keras. Persetan. Film yang buruk.
“Lindsey, apa-apaan?!” Scott yang masih asyik menghadap monitor dari pangkuanku protes karena dorongan yang begitu kasar pada kepalanya, dan barangkali juga karena laptopnya yang kututup paksa sedangkan ia masih larut dalam tontonannya—maksudku belahan dada aktris cantik yang berperan sebagai pembunuh itu.

Aku menyeringai. “Banyak adegan menyenangkan lain yang tak dimasukkan. Mengobok-obok perut manusia bisa lebih menyenangkan lagi daripada itu.”
“Sudahlah, siapa peduli pada ekspektasi orang-orang.” Scott kembali berbaring di pahaku dan memainkan ibu jari di permukaan touchscreen ponselnya. “Bos bilang kita mulai bekerja lagi lusa. Ini targetnya, alamatnya juga tertera di sana.” Ia menghadapkan layar smartphone itu ke wajahku. Tak puas, aku mengambil alih benda itu agar bisa melihat dengan lebih jelas.

Scott terus bicara panjang lebar soal strategi. Kata-kata yang ia ucapkan tak benar-benar dicerna oleh otakku, karena aku terlalu fokus—atau mungkin terpana—melihat apa yang ada di layar ponsel berwarna hitam itu.


Gadis enam tahun pemilik manik hijau cerah dan senyum menawan ini... lusa akan kehilangan bola mata dan ginjalnya. Sangat disayangkan. Anak ini manis, tapi aku dan Scott butuh banyak uang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar