Sore tadi Scott
membawa pulang sebuah flashdisk
berisi sekumpulan film. Ia memamerkannya padaku, menunjukkan sederet panjang
list film bajakan yang ia unduh dari internet. Kami berencana akan menonton
satu dari sekian film-film itu untuk sekedar menghabiskan waktu luang.
Aku dan Scott
adalah pasangan kekasih yang sudah tinggal seatap sejak satu setengah tahun
yang lalu. Dan kami bekerja untuk orang yang sama. Bukan pekerjaan yang wah, tapi kami mencintainya. Hari ini
bos memberi kami waktu libur. Si botak berkumis itu bilang kalau kami berdua
sudah banyak bekerja keras dua bulan terakhir, menghasilkan result yang begitu menguntungkan dan
menunjukkan kinerja yang membanggakan. Aku tersenyum senang saat mendengarnya.
Maka di sinilah kami sekarang, menghadap sebuah laptop di mana flashdisk Scott sudah tertancap dengan
sempurna untuk membantu kami menghabiskan malam ini.
“Membosankan
sekali, bukan?” Scott bersuara dari sebelahku, mengomentari film yang sudah
setengah jalan. Kami duduk di sofa panjang. Scott sudah berkali-kali menguap
lebar dan mengubah posisi saking bosannya. Adegan penuh darah di layar laptop
tak membuat Scott tergubris. Ah, memang, jujur saja aku juga tak suka film ini.
Tulisan ‘Diambil dari kisah nyata’ tercetak jelas di spanduk yang terpasang di
depan gedung bioskop. Aku melihatnya saat kebetulan lewat bersama Scott minggu
kemarin. Tapi aku tahu film ini hanya berisi kebohongan yang dibuat demikian
dramatis untuk menarik penonton sebanyak-banyaknya. Manusia memang menjijikan.
Demi uang mereka memalsukan semua kebenaran. Kudengar polisi masih terus mengincar
pelaku asli dari jual beli organ dalam manusia yang difilmkan ini.
Aku masih fokus.
Masih penasaran akan kemana plot ini berjalan. Sedangkan Scott sudah merangsek
membaringkan kepala di pangkuanku. Kuperhatikan bagaimana seorang perempuan di
monitor mengoyak kulit seorang perempuan lain yang menjerit kesakitan. Di
sampingnya, seorang pemuda langsung sigap membuka lebar sobekan di perut gadis
yang tidak berdaya itu dengan dua tangan. Teriakannya sudah tak senyaring tadi,
tatapannya mulai kosong menerawang ke awang-awang seolah takjub melihat rupa
malaikat pencabut nyawa. Tangan sang aktor tampan, tanpa pembatas apa pun
langsung masuk mengacak isi perut si gadis yang menjadi korban.
Singkat cerita,
dua pelaku pembunuhan itu sudah berada di tengah hutan. Sang korban baru saja
mereka kuburkan di tanah hutan yang gembur, lembab dan berbau khas. Mereka
berbalik pergi mengendap-endap keluar dari hutan itu. Takut-takut ada yang
melihat, khawatir ada yang memergoki pekerjaan mereka. Dengan sebuah tas berisi
organ tubuh manusia yang dibungkus berlapis-lapis agar baunya tak menguar,
mereka berlagak normal membelah keramaian, berjalan masuk ke dalam sebuah
bangunan tua untuk menyerahkan hasil
pekerjaannya pada sang atasan yang bersembunyi di dalam sana.
Aku mendorong
kepala Scott dengan kasar agar bisa memajukan tubuh lantas menutup laptop
dengan keras. Persetan. Film yang buruk.
“Lindsey,
apa-apaan?!” Scott yang masih asyik menghadap monitor dari pangkuanku protes
karena dorongan yang begitu kasar pada kepalanya, dan barangkali juga karena
laptopnya yang kututup paksa sedangkan ia masih larut dalam
tontonannya—maksudku belahan dada aktris cantik yang berperan sebagai pembunuh
itu.
Aku menyeringai.
“Banyak adegan menyenangkan lain yang tak dimasukkan. Mengobok-obok perut
manusia bisa lebih menyenangkan lagi daripada itu.”
“Sudahlah, siapa
peduli pada ekspektasi orang-orang.” Scott kembali berbaring di pahaku dan
memainkan ibu jari di permukaan touchscreen
ponselnya. “Bos bilang kita mulai bekerja lagi lusa. Ini targetnya,
alamatnya juga tertera di sana.” Ia menghadapkan layar smartphone itu ke
wajahku. Tak puas, aku mengambil alih benda itu agar bisa melihat dengan lebih jelas.
Scott terus
bicara panjang lebar soal strategi. Kata-kata yang ia ucapkan tak benar-benar
dicerna oleh otakku, karena aku terlalu fokus—atau mungkin terpana—melihat apa
yang ada di layar ponsel berwarna hitam itu.
Gadis enam tahun
pemilik manik hijau cerah dan senyum menawan ini... lusa akan kehilangan bola
mata dan ginjalnya. Sangat disayangkan. Anak ini manis, tapi aku dan Scott
butuh banyak uang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar